kolaborasi si “kicaupuitis”

Berbicara formal apalagi di depan publik merupakan hal yang sulit untuk saya lakukan. Entah mengapa dari dulu saya memang lebih suka sesuatu yang casual, ringan, ramah, akrab, dekat, namun tetap bisa berisi. Tidak perlu rasanya melakukan hal-hal formal untuk sekedar mencitrakan diri agar “terlihat” berwibawa dan lebih dominan dari orang lain. Namun dalam berbahasa, ada satu cara yang membuat saya mampu berbicara formal, bahkan melebihi formal. #kicaupuitis namanya.

Media ini saya buat bukan untuk pencitraan, tapi lebih kepada menunaikan suatu hobby saya berkata-kata indah sejak menginjak bangku sekolah menengah. Entah mengapa dibalik pribadi saya yang casual, ada suatu rasa melankolis yang memampukan saya bermain kata-kata. Lewat media twitter, saya melakukan hobby saya ini untuk menumpahkan rasa yang ada, mengagumi karya agung Sang Pencipta, atau mengkritisi hal-hal yang terkadang mengusik benak saya.

Beberapa mungkin jengah dengan keberadaan twitter saya dengan hashtag tersebut, mungkin menganggap norak, gombal, dan apalah itu. Dalam hal ini saya memilih tidak mempedulikan mereka, karena hobby ini ditaruh Sang Pencipta secara alami di dalam hidup saya. Dan lagi beberapa teman ada yang mengapresiasi media tersebut, bahkan ada yang membalas permainan kata-kata tersebut dengan balasan yang tak kalah indah. 

Beberapa kali saya berkolaborasi dadakan dengan teman saya. Dan sebagai akhir dari tulisan saya kali ini, saya ingin menorehkan hasil kolaborasi dadakan saya dua minggu lalu. Selamat Menikmati!

 

iya aku pelupa. Tetapi aku tak pernah lupa pada suara-suara. Suara senyum bulan sabitmu, suara tatapan sayu merinduku.

Kode halus penggugah rasa? Memang sederhana namun menarik memori otak untuk sekedar berdecak.

Pertanda  yang menggelitik asa. Tertiup halus di balik tirai merah jambu. Terbawa sepoi pilu. Terterima dalam gumpalan kabut rindu

Dan ketika tersampaikan sesuatu yang merindu, akankah semua pertanda hidup itu menjadi kisah yang mampu tentramkan jiwa?

Gumam rindumu jangan kau bungkam. Pertanda yang menentramkan pun menyeramkan adalah ketika bagaimana manusia memandang sekarang.

 

sebuah kolaborasi dadakan – @arnovlie dan @franc3ssa, #kicaupuitis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s