All architecture is …..

‘All architecture is shelter, all great architecture is the design of space that contains, cuddles, exalts, or stimulates the persons in that space.’

Philip Johnson

Advertisements

Sadar Jakarta Macet, lalu?

“Kota yang baik adalah kota yang memiliki transportasi umum yang baik”

Mungkin bisa dibilang Jakarta kini sudah lekat dengan yang namanya ‘macet’.Kalau saja Jakarta dianugerahi nama belakang,mungkin bisa jadi namanya menjadi Jakarta Macet.Sedih ya,apalagi ditambah dengan berbagai macam umpatan tambahan untuk Jakarta yang panas ini membuat hatipun jadi ikut panas.

Bagi saya yang sempat mengenyam mata kuliah Arsitektur Kota di bangku universitas,tentu sempat terbersit berbagai solusi untuk (setidaknya) menurunkan tingkat kemacetan Jakarta ini.Dari pemikiran tentang pengelompokkan transportasi khusus setiap company,hingga penambahan jalan.Ah tapi sudahlah,ternyata yang paling penting memang kesadaran diri sendiri.

Mengapa demikian?

Tadi malam selepas meeting dengan teman baik saya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat,saya sempat menoleh ke arah luar untuk melihat situasi jalanan.Ternyata di luar hujan dan jalanan dijejali mereka yang berbondong pulang ke rumah.Otak sayapun segera berputar memilih berbagai alternatif paling efektif untuk pulang.Dengan berbagai pertimbangan,akhirnya diputuskan memilih TransJakarta yang merupakan transportasi umum ternyaman yang pemerintah DKI Jakarta sediakan bagi warganya.Awalnya sempat enggan untuk mengantri apalagi mengingat jam pulang kantor yang pasti dijejali antrian para pemburu ‘pulang’.Namun setelah dijalani,saya begitu yakin ini cara paling efektif saat ini untuk sampai rumah dengan cepat.Apalagi setelah mengingat aturan denda yang sudah dipublikasikan oleh pemerintah bagi mereka para pencuri jalur busway.Dan tanpa antri lama,sayapun mendapatkan bus TransJakarta yang kebetulan express langsung sampai ke halte terdekat tempat tinggal saya. (tidak perlu transit di halte berikutnya untuk melanjutkan perjalanan).Dan tiba di dalam bus tidak perlu berhimpit-himpitan,hanya sekedar berdiri namum tetap merasa nyaman.

Pengalaman ini menjadi menarik bagi saya.Kata nyaman menjadi sangat fleksibel disini.Saya memilih untuk mendefinisikan kata nyaman dengan berjalan kaki lebih panjang menuju halte bus dan tiba lebih cepat di rumah,daripada duduk manis di atas mobil dengan nyaman namun membiarkan ibukota berjejal dan berakibat waktu yang tidak nyaman.

Apa salahnya bergabung dan sedikit berdesakan dengan mereka para pemburu ‘pulang’ yang bisa menikmati TransJakarta sebagai transportasi umum yang Pemerintah DKI Jakarta bisa sediakan?
Apa salahnya sedikit berkeringat berjalan kaki menuju halte daripada duduk diam seolah tanpa punya solusi lain atau bahkan malah mengumpat di balik mewahnya kendaraan roda empat?

Yang dibutuhkan sekarang adalah ruang gerak yang lebih luas untuk kita bergerak memecah macet bukan?
Mari sadari untuk memperkecil luas kita menjadi sebesar kita daripada berubah menjadi sebesar kendaraan roda empat (singkatnya jadi diri sendiri sebagai warga Jakarta).
Mari mencari definisi nyaman yang tidak egois namun lebih relevan dengan masyarakat sekitar.
Mari berhenti mengumpat tentang macetnya ibukota dan memilih untuk bersyukur atas apa yang Pemerintah DKI Jakarta ‘baru’ bisa lakukan.Tidak perlu rasanya menuntut ini dan itu sebelum kita sendiri sadar dan bisa berperilaku sadar.

Oh dan perlu diketahui bahwa menggunakan transportasi umum itu memang perlu waspada akan bahaya kriminalitas,tapi tidak perlu separno itu untuk menjadi anti transportasi umum.Keselamatan ada di tangan kita juga,untuk tetap waspada dengan apa yang kita bawa.

#RealTalk, an Indonesian brilliant talkshow

Bicara soal talkshow, saya sangat suka konsep show semacam ini dari sejak saya kecil. Mungkin dulu talkshow yang saya ikuti sebatas talkshow-talkshow lucu ala anak ingusan. Tapi sekarang banyak sekali talkshow di TV baik lokal maupun internasional yang menampilkan berbagai macam konsep. Yang saya ingin bicarakan kali ini adalah mengenai Talkshow buatan dalam negri  yang digagas oleh seorang aktris film Indonesia,Hannah Al-Rashid.

Ketika saya mengikuti tweet Hannah soal program yang sedang dibuatnya, I’m very excited about this program! and you know who is the first guest star in this program…. JOKO ANWAR, the name that i adore so much. Saya kenal Joko Anwar dari setiap karya yang ia ciptakan dan selalu tertarik dengan berbagai info yang diberikannya. Kreativitasnya tanpa batas dan saya belajar itu dari seorang Joko Anwar. Enough talk about Joko Anwar (i will share about Joko Anwar one day, i promise).

Back to the Hannah’s talk show. Kemunculan program ini semakin menarik karena ternyata teaser-teaser berikut nya bermunculan dan memuat nama-nama kaliber perfilman Indonesia seperti Ario Bayu, Joe Taslim, Lala Timothy, dan Wulan Guritno. Talk show ini tidak menampilkan Hannah physically, tetapi saya merasa yakin Hannah hadir melalui pertanyaan-pertanyaan menarik yang membuat all the guest stars mau buka-bukaan soal apapun yang Hannah berani tanyakan. Talkshow ini juga dengan sangat baik menempatkan guest star sebagai orientasi utama, bukan seperti talkshow-talkshow murahan di TV local yang lebih mengedepankan host sebagai orientasi mereka. Dan yang perlu digarisbawahi disini adalah, kelima tamu yang disuguhkan berangkat dari backround perfilman Indonesia (walaupun saya juga tertarik dengan background guest star dari bidang lain). Ini menarik. Perfilman Indonesia buat saya seperti semacam hiburan paling menyegarkan yang saya miliki disamping my main passion, design. Film Indonesia memang belum semuanya baik, namun ketika kita kenali rutin karakter Film Indonesia yang baik, ada magnet yang membuat saya selalu tertarik dengan Film-Film Indonesia.

Pertanyaan demi pertanyaan yang dihadirkan di talkshow ini memang bukan melulu tentang film, tapi selalu ada pertanyaan mengenai film yang membuat saya semakin tertarik dengan talkshow ini. Tidak saya pungkiri juga kalo saya juga excited dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman hidup, guru favorit, and any other simple question that inspire my mind. All the statements from them about Indonesian Film, membuat saya mengerti mindset mereka dan paham betul kemana mereka akan membawa perfilman Indonesia. it is very very very interesting (at least) for me. Film Indonesia punya masa depan di tangan mereka.

Sampai saat ini, baru lima guest stars yang dihadirkan dalam program ini, namun itupun masih menyisakan part-part lain yang belum dipublish. Saya selalu menunggu update dari program ini.

Ketik #RealTalk di bagian ‘search’ lembar Youtube, and i always enjoy watching brilliant talkshow like this.Thanks Hannah Al-Rashid.

Image

*for more update, just follow @Real_Talk_With on Twitter.