Sadar Jakarta Macet, lalu?

“Kota yang baik adalah kota yang memiliki transportasi umum yang baik”

Mungkin bisa dibilang Jakarta kini sudah lekat dengan yang namanya ‘macet’.Kalau saja Jakarta dianugerahi nama belakang,mungkin bisa jadi namanya menjadi Jakarta Macet.Sedih ya,apalagi ditambah dengan berbagai macam umpatan tambahan untuk Jakarta yang panas ini membuat hatipun jadi ikut panas.

Bagi saya yang sempat mengenyam mata kuliah Arsitektur Kota di bangku universitas,tentu sempat terbersit berbagai solusi untuk (setidaknya) menurunkan tingkat kemacetan Jakarta ini.Dari pemikiran tentang pengelompokkan transportasi khusus setiap company,hingga penambahan jalan.Ah tapi sudahlah,ternyata yang paling penting memang kesadaran diri sendiri.

Mengapa demikian?

Tadi malam selepas meeting dengan teman baik saya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat,saya sempat menoleh ke arah luar untuk melihat situasi jalanan.Ternyata di luar hujan dan jalanan dijejali mereka yang berbondong pulang ke rumah.Otak sayapun segera berputar memilih berbagai alternatif paling efektif untuk pulang.Dengan berbagai pertimbangan,akhirnya diputuskan memilih TransJakarta yang merupakan transportasi umum ternyaman yang pemerintah DKI Jakarta sediakan bagi warganya.Awalnya sempat enggan untuk mengantri apalagi mengingat jam pulang kantor yang pasti dijejali antrian para pemburu ‘pulang’.Namun setelah dijalani,saya begitu yakin ini cara paling efektif saat ini untuk sampai rumah dengan cepat.Apalagi setelah mengingat aturan denda yang sudah dipublikasikan oleh pemerintah bagi mereka para pencuri jalur busway.Dan tanpa antri lama,sayapun mendapatkan bus TransJakarta yang kebetulan express langsung sampai ke halte terdekat tempat tinggal saya. (tidak perlu transit di halte berikutnya untuk melanjutkan perjalanan).Dan tiba di dalam bus tidak perlu berhimpit-himpitan,hanya sekedar berdiri namum tetap merasa nyaman.

Pengalaman ini menjadi menarik bagi saya.Kata nyaman menjadi sangat fleksibel disini.Saya memilih untuk mendefinisikan kata nyaman dengan berjalan kaki lebih panjang menuju halte bus dan tiba lebih cepat di rumah,daripada duduk manis di atas mobil dengan nyaman namun membiarkan ibukota berjejal dan berakibat waktu yang tidak nyaman.

Apa salahnya bergabung dan sedikit berdesakan dengan mereka para pemburu ‘pulang’ yang bisa menikmati TransJakarta sebagai transportasi umum yang Pemerintah DKI Jakarta bisa sediakan?
Apa salahnya sedikit berkeringat berjalan kaki menuju halte daripada duduk diam seolah tanpa punya solusi lain atau bahkan malah mengumpat di balik mewahnya kendaraan roda empat?

Yang dibutuhkan sekarang adalah ruang gerak yang lebih luas untuk kita bergerak memecah macet bukan?
Mari sadari untuk memperkecil luas kita menjadi sebesar kita daripada berubah menjadi sebesar kendaraan roda empat (singkatnya jadi diri sendiri sebagai warga Jakarta).
Mari mencari definisi nyaman yang tidak egois namun lebih relevan dengan masyarakat sekitar.
Mari berhenti mengumpat tentang macetnya ibukota dan memilih untuk bersyukur atas apa yang Pemerintah DKI Jakarta ‘baru’ bisa lakukan.Tidak perlu rasanya menuntut ini dan itu sebelum kita sendiri sadar dan bisa berperilaku sadar.

Oh dan perlu diketahui bahwa menggunakan transportasi umum itu memang perlu waspada akan bahaya kriminalitas,tapi tidak perlu separno itu untuk menjadi anti transportasi umum.Keselamatan ada di tangan kita juga,untuk tetap waspada dengan apa yang kita bawa.

Advertisements

2 thoughts on “Sadar Jakarta Macet, lalu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s