Romantisme Rasa Erros Djarot.

Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya.
Namun setelah Empat Puluh Tahun Beliau berkarya, saya mulai mengenalnya. Lewat konser malam itu, dengan suguhan apik dari aransemen Erwin Gutawa, tata panggung seorang arsitek Jay Subiyakto, dan penulisan skenario sineas wanita Mira Lesmana, serta show director Inet Leimena, saya mengenal Erros Djarot dan bahkan jatuh cinta akan karya beliau.
Momen Hari Kasih Sayang tahun ini memang sengaja saya lewatkan dengan menonton konser ini. Sebuah selebrasi romantis seorang Erros Djarot melalui karyanya yang terkenal puitis dan berkelas.
Mira Lesmana, lewat skenarionya, mampu membuat penikmat konser betah mengikuti alur pagelaran. Babak demi babak Ia bagi dengan sebuah fokus dari tiap sudut pandang yang berbeda. Jelas muncul sosok multi-talenta dari seorang Erros Djarot. Bukan hanya musisi, Beliau berjuang dalam karya lewat film sebagai sutradara, menjadi budayawan, hingga berani naik ke panggung politik. Menarik karena di antara penampilan berkelas setiap bintang panggungnya, kejutan demi kejutan disisipkan sang sineas wanita untuk tetap menjaga grafik penonton. Cuplikan Film Tjoet Nyak Dien yang merupakan film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes tahun 1989 karya Erros Djarot,menjadi salah satu kejutan utama dengan iringan orchestra Erwin Gutawa yang membuat saya sedikit banyak merinding menikmatinya. Penampilan The S.I.G.I.T. dengan panggung hidrolik ala Jay, drama musikal era Orde Baru tentang pembredelan tabloid Detik, doa bersama Iwan Fals untuk negeri Indonesia, serta tentu saja penampilan klimaks Berlian Hutahuruk dalam paket lengkap album Badai Pasti Berlalu, menjadi kejutan susulan hingga puncak selebrasi.
Di antara para penampil, memori otak saya tertuju pada interaksi Aqi dan Satria dari Alexa. Keduanya berhasil menyuguhkan lagu apik ‘Malam Pertama’ yang populer dinyanyikan oleh Chrisye di jamannya. Lagu ini seperti meninggalkan kesan yang panjang karena melodi yang indah dari seorang Erros. Memang dalam setiap karyanya Erros seperti berhasil menghembuskan energinya untuk menjiwai setiap karya hasil ciptaannya. Jelas juga terbukti ketika Istri Erros, Dewi Triyadi Surianegara, bersaksi tentang latar belakang diciptakannya tembang ‘Selamat Jalan Kekasih’. Dewi berujar betapa romantisnya Erros saat melepas kepergiannya untuk mengambil kuliah di Sorbonne, Perancis.
Pengalaman rasa sepanjang konser malam itu memang membuat saya semakin yakin bahwa negeri ini punya banyak aset berharga. Meskipun penikmat konser tadi malam didominasi oleh golongan kelas atas dengan umur di atas rata-rata, saya yakin ada segelintir anak muda yang masih ingin belajar, setidaknya dengan menyaksikan suatu karya sejarah musik dan film Indonesia.
Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya, itu dulu. Kini, saya jatuh cinta pada karyanya, pada geriknya, dan tiap melodi yang ia ciptakan. Perkenalan malam itu menyadarkan saya bahwa karya bisa bicara, asal tertembus nyata lewat jiwa.

Advertisements

2 thoughts on “Romantisme Rasa Erros Djarot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s