Soal SARA : hadiah dan pilihan.

Sementara desas-desus soal SARA semakin bingar, saya berpikir keras tentang perlunya SARA diperbincangkan sampai menjadi pro dan kontra yang demikian hebat.

Indonesia merupakan negara ragam. Ragam kultur, bahasa, pulau dan banyak lagi. Hidup di negeri ini harusnya membuat kita mampu berpikir soal keberagaman yang semestinya tidak perlu dipersoalkan, tetapi menjadi suatu keberagaman yang menguntungkan.

Saya lahir dan besar di tanah Sunda dari orangtua berdarah keturunan Cina. Pernahkah saya memilih saya lahir dimana, dengan warna kulit apa, dan keluarga siapa? Tentu itu pertanyaan konyol yang tidak butuh jawaban. Hal semacam ini tidak butuh penjelasan. Maha Kuasa yang memang mengaturnya menjadi suatu hadiah. Bicara soal hadiah, harusnya itu sesuatu yang membahagiakan, menyenangkan, dan tentunya tidak untuk dipersoalkan (wong hadiah koq) .

Sejak kecil, saya dibesarkan dengan tata cara Kristen Katolik yang taat. Mengikuti setiap perayaan demi perayaan dengan khidmat, apalagi saya sempat menjadi putra altar yang cukup paham soal tata cara perayaan Katolik. Hingga suatu hari saya dikenalkan dengan paham Kristen yang lebih liberal, tidak terikat dengan pakem-pakem liturgi, dan sejalan dengan jaman. Disini saya memutuskan memilih, masih sama-sama Kristen namun berganti cara berhubungan dengan Maha Kuasa.

Menarik karena dua ilustrasi yang saya lakoni seolah bertolak belakang. Namun, keduanya sama pentingnya. Hadiah dari Maha Kuasa, dan pilihan untuk Maha Kuasa. Ada semacam kesinambungan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hal pertama, tanpa pilihan dan menerima diri apa adanya sebagai hadiah. Bahwa saya orang Sunda berdarah Cina, sama sekali tidak dapat request pada sang Maha Kuasa (terima jadi saja). Hal kedua, memilih agama menjadi pegangan hidup pada MahaKuasa yang telah memberikan hadiah. Betul ini pilihan, tapi pilihan hati untuk menentukan mana yang sesuai dengan sikap diri yang terbentuk. Tidak perlu dipaksakan, juga tidak perlu diperdebatkan. Semuanya soal hubungan dengan Maha Kuasa. Soal berterimakasih atas hadiah yang sudah diberikan saat kita hadir pertama di dunia tanpa bisa memilih.

Setelah merenungi kedua hal tadi, saya menggelengkan kepala keras ketika masih saja ada banyak desas-desus soal SARA. Miris ketika masih saja program berita di TV melaporkan soal rusuhnya rumah warga yang diserang karena sedang melakukan ibadah keagamaan. Atau headline news yang memuat berita soal para calon pemimpin yang diisukan soal status agamanya. Ilustrasi sederhana yang saya utarakan tadi sesungguhnya cukup menjawab seberapa legowo nurani ini butuh kesadaran.

Bukankah lebih indah bila menerima hadiah dari Sang Maha Kuasa dan lalu kemudian bergegas bebas menentukan pilihan untuk bersyukur pada Sang Maha Kuasa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s