Terima Kasih Semesta

Detik mengayuh kencang lewat putaran denyut nadi dan pompa darah lewat jantung. Tak terasa nyawa ini kembali mengulang selebrasi. Selebrasi atas cahaya pertama yang dirasa ketika sampai di lapisan planet bernama Bumi. Mendadak Bumi hingar bingar kena teriak tangis makhluk, dua puluh delapan tahun lalu. Tepat hari Sabtu, seperti hari Sabtu yang sedang aku rasakan.
Lewat wanita penuh juang tanpa operasi instan, aku lahir ke Bumi bermandikan darah warna merah gelap. Teriak tangisku malah disambut tawa bahagia bernama Hidup, suatu nafas baru ketika sampai ke lapisan Bumi. Ah, begitulah proses lahir makhluk bernama manusia yang aku kenal lewat sosokku sendiri.
Selepas itu, aku berkenalan dengan Belajar, proses menguasai hal-hal baru yang berkaitan dengan rasa ingin tahu. Manusia dengan segala ketidakpuasan melebur dengan bekal ilmu dan informasi yang mengalir deras lewat ciptaan-ciptaan Semesta melalui dunia. Dan aku terus ingin belajar, seiring detik yang mengayuh kencang, begitu seterusnya.
Kini, melalui selebrasi itu, aku ingin bersyukur atas kejadianku. Aku bersyukur atas rencana Semesta atasku sampai hari ini. Aku bersyukur karena aku mengerti rencana Semesta dan ingin mewujudkannya dalam setiap kontribusi untuk Bumi.
Terimakasih Semesta atas anugerah tak henti yang Engkau hembuskan dalam setiap nafas hidup. Dan anugerah itu kupercaya akan terus terhembus, tanpa henti, seiring janji untuk terus berjalan dalam jalur Sang Semesta.

Terima Kasih.

Mazmur 139: 14-16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s