menjadi “Saat Ini”

Zaman sudah menggeser makna menjadi suatu yang tidak lebih hangat dari sebelumnya. Manusia zaman sibuk berlaku dan bercitra melalui sesuatu yang tidak langsung. Lebih memilih untuk bertekun dalam setiap baris kata yang diketik lewat tombol aksara dibanding temu muka melepas rindu. Juga lebih senang mengabadikan citra lewat balik lensa daripada menikmati melambatnya waktu bersama. 

Memang zaman seperti memudahkan sesuatu yang rasanya jauh secara jarak untuk tetap berelasi. Namun zaman juga seperti membuat sesuatu yang hangat dari lingkar terkecil jiwa menjadi punya jarak yang harusnya tidak. Klise. Kehangatan yang tadinya menjadi pencarian jiwa kini beralih pada sesuatu yang terlalu sederhana dan kehilangan esensi. Zaman kini seperti membiarkan hilangnya esensi kebersamaan. 

Entah seberapa sering manusia zaman menoleh layar penuh tahu-nya untuk sekedar berkomunikasi dengan dunia. Entah seberapa sering Ia lupa akan kehidupan di depan matanya yang sebenernya sangat sayang untuk dilewatkan. Entah seberapa sering Ia kehilangan momen menikmati rasa syukur yang MahaKuasa tawarkan detik itu. Entah.
Dan manusia zaman itu adalah aku, yang sering lupa akan keberadaan hari. Aku yang lebih gemar mencari sesuatu di luar sana tapi lupa akan apa yang telah dan sedang dimiliki. Aku yang sering lupa bersyukur akan detik ini dan lebih sering menggerutu demi masa depan. Dan, aku yang sedang mencoba untuk berada pada saat ini, saat dimana aku semestinya berada, menanti dan menikmati.
Zaman menawarkan distraksi pada manusia, namun manusia zaman harusnya mampu memilih dimana sekarang kita ingin “berada” saat ini. 
Advertisements