Nasionalisme 18 Agustus

Wara wiri timeline di tanggal 17 Agustus kemarin, membuat saya ingin merenung dalam akan semangat Nasionalisme yang berkobar di hati dan pikir para pengguna social media. Bangga karena banyak sekali yang mengucap soal Nasionalisme. Merasa bahwa tanah air ini adalah milik kita. Bangga bahwa bangsa besar ini sudah merdeka dari penjajah tujuhpuluh tahun lamanya. Bangga karena bendera Merah Putih dapat terbentang dalam gelora angkasa tertiup angin bebas. 

Berpikir lebih dalam lagi, ada harap yang akhirnya kemudian muncul. Ada harap yang memohon untuk membuat ucapan selamat atas bangsa ini bukan hanya berujung cuap. Tetapi betul bahwa Nasionalisme memang didengungkan setiap hari. Menjadi nafas dalam mengambil bagian dalam semangat muda Nusantara. Nasionalisme bukan sekedar selebrasi kreatif sehari di tujuhbelasan. Nasionalisme ada di tanggal delapanbelas, sembilanbelas, duapuluh, dan seterusnya. Nasionalisme berada dalam sanubari. Ia mau mengambil tanggungjawab, bukan sekedar sebagai diri, namun lebih daripada itu, Ia mau mengambil tanggungjawab sebagai bagian dari bangsa besar ini.

Nasionalisme setidaknya mampu menghargai karya anak bangsa, bukan mencibir. Ia juga mampu bersikap adil dan sportif dalam perlombaan dunia. Nasionalisme setidaknya juga mampu menghargai Nusantara sebagai alam kaya raya, bukan mengeksploitasi alam dengan ego belaka. Nasionalisme untuk membuat udara bangsa ini bersih dari polusi asap rokok, dan lebih bertanggungjawab untuk tahu dimana seharusnya membuang kotoran dan sampah. 

Tidak perlu terlalu muluk untuk berpikir jauh soal Nasionalisme. Sesederhana mengucap selamat akan negeri ini yang telah merdeka tujuhpuluh tahun lalu saja. Mengambil bagian kecil dari semangat Nasionalisme satu hari, sewajarnya membuat kita menjadi lebih wajar bertindak sebagai bagian dari bangsa ini. Lupakan ego soal diri dan kobarkan semangat Nasionalisme yang didengungkan di tanggal tujuhbelas, sehingga Nasionalisme tidak dijumpai hanya setahun sekali, tetapi setiap hari di sepanjang tahun. 

Semangat ’45. Selalu. Sepanjang tahun. 

Advertisements

Kala Fajar

Merah menjingga, itu hadirMu kala fajar.

Lewat Senin ketika waktu mengetuk lima, hampir enam.

Jiwa ini merasa, betapa hebat kuasaMu, betapa agung.

Melankoli ini semacam bercerita otomatis.

Romantisnya Engkau mengirim suatu pesan lewat warna. 
Terimakasih Semesta, untuk setiap rindu yang tersampai dalam.

Terimakasih Semesta, untuk setiap warna yang terpampang nyata. 

Terimakasih Semesta, untuk setiap pesan yang terpatri jelas.