Esensi Menjadi Manusia

Setelah cukup lama vakum menulis di blog ini, saya mencoba berusaha kembali menulis. Selain karena terpacu oleh salah seorang teman yang belakangan jadi lebih rajin menulis dibanding saya, tiba-tiba terbersit topik menarik yang beberapa hari belakangan ini mengganggu alam pikir saya. Awalnya, ketika tragedi banjir bandang yang menimpa kota Garut (kota tempat saya tumbuh besar) menjadi bencana dadakan seminggu lalu, saya cukup disibukkan dengan beberapa pertanyaan  para sahabat dan teman tentang keberadaan saya. Ada yang langsung bertanya via Whatsapp pagi setelah tragedi, menelepon esok harinya, bahkan beberapa hari ke depannya masih saja menanyakan kabar via Direct Message di akun Instagram pribadi saya. Beruntungnya, keluarga dan tetangga-tetangga saya pun baik-baik saja.

Lalu hari ini, News Anchor favorit saya, Marissa Anita, menyatakan vakum di panggung Indonesia Morning Show Net TV dan tentunya program menarik Satu Indonesia, untuk menjalani studi Digital Media & Society di UK melalui jalur beasiswa Chevening. Ada banyak foto yang Ia upload di Akun Instagram miliknya tentang perpisahan sementara. Saya sama sekali tidak terganggu dengan banyaknya foto tersebut. Saya merasakan ada kehangatan dalam setiap foto tersebut. Banyak ekspresi juga harapan dan doa yang Ia tunjukkan di sana. Namun, saya tersentuh dengan salah satu caption di akun Instagram miliknya tentang esensi menjadi manusia. Kurang lebih isi penggalannya seperti ini :
Sangat bersyukur hari ini banyak cinta. Hari ini mengingatkan saya pada esensi menjadi manusia. Kita yang saling sayang dan akan selalu saling merindukan.

Terus terang saya tersentuh dan sempat diam serta merenungi caption tersebut, sebelum akhirnya lari menuju laptop dan mencoba menuangkan apa yang saya rasakan lewat tulisan ini. Saya tersadar dengan jelas bahwa esensi menjadi manusia itu karena manusia punya cinta di dalam hatinya. Cinta bukan sekedar terhadap lawan jenis, namun cinta yang tulus yang bisa berubah wujud menjadi seberkas senyum manis, sapaan perhatian, dan bahkan pertolongan tanpa pamrih. Saya merasakan sekali perhatian dari teman-teman terdekat, ketika kota saya besar tertimpa bencana yang cukup berat. Mungkin hanya bertanya sapa, namun saya mengapresiasi setiap tanya tersebut sebagai sebuah perhatian tulus. Dan selalu, saya bergumam, bahwa saya masih memiliki teman. Orang-orang terdekat yang dengan tulus memasukkan saya pada daftar sahabat di lembar hidup mereka (bukan sekedar daftar teman di akun-akun social media saja).

Mencinta dan dicintai, memerhati dan diperhatikan, ini yang saya garis bawahi tentang esensi menjadi manusia. Manusia menjadi makhluk yang Maha Kuasa anugerahkan untuk memiliki cinta. Manusia yang secara cuma-cuma mendapat berbagai berkah dari Semesta, harusnya dengan mudah bersyukur dan segera membagikan tiap-tiap berkah yang dimiliki pada Semesta, pada Bumi tempat berpijak. Bumi yang berkembang pesat saat ini, memudahkan manusia untuk berbagi dan berkarya, bukan malah berdiam dan mengagungkan setiap ego yang dimiliki.

_MG_8760-s.jpg

Manusia lekat dengan cinta yang menjunjung kedamaian, bukan huru-hara apalagi kebencian. Manusia dicipta Semesta untuk mencinta dan dicinta. Manusia dicipta Semesta untuk memiliki ruang-ruang bahagia untuk berkarya.

Jangan lupa mencinta! Jangan lupa bahagia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s