Esensi Menjadi Manusia

Setelah cukup lama vakum menulis di blog ini, saya mencoba berusaha kembali menulis. Selain karena terpacu oleh salah seorang teman yang belakangan jadi lebih rajin menulis dibanding saya, tiba-tiba terbersit topik menarik yang beberapa hari belakangan ini mengganggu alam pikir saya. Awalnya, ketika tragedi banjir bandang yang menimpa kota Garut (kota tempat saya tumbuh besar) menjadi bencana dadakan seminggu lalu, saya cukup disibukkan dengan beberapa pertanyaan  para sahabat dan teman tentang keberadaan saya. Ada yang langsung bertanya via Whatsapp pagi setelah tragedi, menelepon esok harinya, bahkan beberapa hari ke depannya masih saja menanyakan kabar via Direct Message di akun Instagram pribadi saya. Beruntungnya, keluarga dan tetangga-tetangga saya pun baik-baik saja.

Lalu hari ini, News Anchor favorit saya, Marissa Anita, menyatakan vakum di panggung Indonesia Morning Show Net TV dan tentunya program menarik Satu Indonesia, untuk menjalani studi Digital Media & Society di UK melalui jalur beasiswa Chevening. Ada banyak foto yang Ia upload di Akun Instagram miliknya tentang perpisahan sementara. Saya sama sekali tidak terganggu dengan banyaknya foto tersebut. Saya merasakan ada kehangatan dalam setiap foto tersebut. Banyak ekspresi juga harapan dan doa yang Ia tunjukkan di sana. Namun, saya tersentuh dengan salah satu caption di akun Instagram miliknya tentang esensi menjadi manusia. Kurang lebih isi penggalannya seperti ini :
Sangat bersyukur hari ini banyak cinta. Hari ini mengingatkan saya pada esensi menjadi manusia. Kita yang saling sayang dan akan selalu saling merindukan.

Terus terang saya tersentuh dan sempat diam serta merenungi caption tersebut, sebelum akhirnya lari menuju laptop dan mencoba menuangkan apa yang saya rasakan lewat tulisan ini. Saya tersadar dengan jelas bahwa esensi menjadi manusia itu karena manusia punya cinta di dalam hatinya. Cinta bukan sekedar terhadap lawan jenis, namun cinta yang tulus yang bisa berubah wujud menjadi seberkas senyum manis, sapaan perhatian, dan bahkan pertolongan tanpa pamrih. Saya merasakan sekali perhatian dari teman-teman terdekat, ketika kota saya besar tertimpa bencana yang cukup berat. Mungkin hanya bertanya sapa, namun saya mengapresiasi setiap tanya tersebut sebagai sebuah perhatian tulus. Dan selalu, saya bergumam, bahwa saya masih memiliki teman. Orang-orang terdekat yang dengan tulus memasukkan saya pada daftar sahabat di lembar hidup mereka (bukan sekedar daftar teman di akun-akun social media saja).

Mencinta dan dicintai, memerhati dan diperhatikan, ini yang saya garis bawahi tentang esensi menjadi manusia. Manusia menjadi makhluk yang Maha Kuasa anugerahkan untuk memiliki cinta. Manusia yang secara cuma-cuma mendapat berbagai berkah dari Semesta, harusnya dengan mudah bersyukur dan segera membagikan tiap-tiap berkah yang dimiliki pada Semesta, pada Bumi tempat berpijak. Bumi yang berkembang pesat saat ini, memudahkan manusia untuk berbagi dan berkarya, bukan malah berdiam dan mengagungkan setiap ego yang dimiliki.

_MG_8760-s.jpg

Manusia lekat dengan cinta yang menjunjung kedamaian, bukan huru-hara apalagi kebencian. Manusia dicipta Semesta untuk mencinta dan dicinta. Manusia dicipta Semesta untuk memiliki ruang-ruang bahagia untuk berkarya.

Jangan lupa mencinta! Jangan lupa bahagia!

Advertisements

Surat Balas untuk Praha

 
Teruntuk Praha, 
Praha, Engkau tidak dieksploitasi lewat keindahanmu di film ini. Namun Engkau tetap Indah. Indah karena Engkau dipadukan dengan suguhan akting menarik dari peran Kemala Dahayu Larasati (Julie Estelle) dan Mahdi Jayasri (Tyo Pakusadewo). Diiringi denting piano di setiap sudut scene, dan nyanyian syahdu yang dicipta sang Executive Producer. 
Perkenalan dengan Mahdi Jayasri yang disuguhkan dengan latar lagu Menanti Arah, menjadi suatu pengalaman yang sungguh menarik, menggigit rasa, merasakan getir hidup Sang Jaya. Tiap perkataan yang dilontarkan Jaya, seperti semacam Roh yang dihembuskan dalam jiwaku, jiwa yang menikmati sungguh karya ini. Rasa ini terus dikoyak menembus fantasi, bahkan imajinasi. Angga Dwimas Sasongko sukses menaruh suatu cerita indah untukmu, Praha. Ia bersama Irvan Ramli sebagai penulis cerita, dan Glenn Fredly sebagai inspirator melalui senandung lagu, berhasil memainkan rasa setiap jiwa yang mampu menikmatinya.

Ada tanya yang menggantung di beberapa scene. Tetapi menjadi suatu kejanggalan jika kita hanya bisa menghakimi, ketika logika hanya memiliki batasan. Butuh lebih dari sekedar logika untuk paham karya lewat Praha. Butuh rasa untuk menjawab setiap mengapa yang mengadu. 

Praha, hampir saja aku terlambat membalas suratmu. Namun tidak. Surat ini adalah penanda selamat untuk hadirnya suatu karya besar di kancah Film Indonesia. Selamat kulontarkan untuk setiap crew yang telah memberi kontribusi karya indah. Praha, Engkau beruntung memiliki mereka untuk mengukir cerita. Ya cerita soal rasa, di Praha. 

Mencari Diri di Mencari Hilal

Mencari-Hilal-1-620x330

Sementara antrian untuk menonton Manusia Semut mengekor panjang, saya dan keluarga lebih memilih Film Indonesia garapan sutradara muda Ismail Basbeth, Mencari Hilal. Film ini bercerita soal hubungan manusia dan Tuhan sekaligus hubungan antara seorang Ayah dan anak laki-lakinya. Berlatar belakang ajaran Islam dan tata krama Jawa halus, Mencari Hilal menjadi sangat kontras dalam bertutur dan berpesan. Pencarian hilal memang menjadi tujuan utama film ini secara harafiah, namun ada maksud lebih yang ingin disampaikan oleh sang penulis skenario tentang makna sebuah pencarian.

Oka Antara sebagai aktor berbakat generasi ini, memang layak bersanding dengan kepiawaian sang ayah yang diperankan oleh Dedi Sutomo. Terlihat keduanya sama-sama punya karakter kuat juga keras menyikapi pencarian hilal. Adegan demi adegan yang ditampilkan dalam film ini sederhana namun mampu menguras emosi saya untuk segera menggelengkan kepala atau berdecak kagum akan tiap tindak dan laku kedua aktor. Akting sang kakak (yang diperankan oleh Erythrina Baskoro) saya rasa juga tepat pada porsinya. Tepat sasaran dalam menyulut api konflik di awal hingga tengah cerita, sehingga membawa saya ikut terlibat emosi di dalamnya.

Scene favorit saya untuk film ini adalah ketika sang anak menyerah untuk pulang, duduk di belakang mobil pick-up dengan sayur dan bermacam barang. Suatu adegan gerak pulang, yang meninggalkan makna kecewa yang bingung akan sang ayah. Kebingungan ini juga dialami saya sebagai penonton beradu dengan bingungnya Oka Antara dalam adegan. Menarik. Road Movie memang selalu membawa emosi naik turun tanpa perlu lelah menebak mau dibawa kemana film ini akhirnya. Oh, saya memang menggemari road movie. Genre ini bagi saya selalu memberi kesan sederhana, mudah dicerna, namun selalu berakhir pada buah pikir yang tak begitu saja mudah terlupa.

Mencari Hilal bukan sekedar tontonan bagi kaum tertentu. Bagi saya, Mencari Hilal layak ditonton oleh setiap mereka yang peduli akan solidaritas beragama, mereka yang bingung soal agama, mereka yang gemar bicara soal agama, mereka yang merasa agama bukan sekedar label yang menempel lekat pada identitas, namun lebih dari semua itu, suatu kebenaran yang hakiki tentang suatu relasi. Dengan Tuhan, dan juga dengan sesama di zaman yang semakin bergerak maju. Bukan mundur.

Selamat Ismail Basbeth dan crew untuk kesederhanaan suatu karya yang mampu menggigit emosi sekaligus memberi titik terang tentang makna suatu relasi.

*saya senang karena menonton film ini bersama keluarga layaknya studio seperti milik pribadi, sekaligus sedih karena tidak adanya andil penonton lain (selain keluarga saya) untuk merasakan indahnya kesederhanaan film ini.

Simak trailernya di : Mencari Hilal – Trailer

Nathania Wibowo, a friend with a million passions in music.

‘Spring Cleaning’‘s breezy melody inspires a sense of calm and optimism in the listener as Nathania Wibowo’s crisp, earnest voice dances through the song’s twittery rhythm. This song encompasses Wibowo’s spirit, an impassioned composer and performer who lives for her art.

I was introduced to Nathania when we were both studying Architecture at Parahyangan Catholic University. Our friendship has been filled with discussions about music, art and life. The natural rhythm to her voice is musical, showing her constant embodiment of her creativity. Nathania bares her soul through her music. 

Some of my fondest memories of my time spent with Nathania involve going to karaoke bars to pass the frigid nights in North Bandung, and Nathania would always be the star performer. My friends and I were always mesmerized by her performances in the small and intimate space. Her voice always inspired in us a sense of home and would send us into a calm and dreamlike state.

Since moving to the United States, Nathania’s talent and artistic spirit have taken wing even further. Spectrum of the East I-90, Spring Cleaning (both in collaboration with lyricist Taylor Smith), and My Sister (a piece from Insult To Injury, a play with music by Los Angeles-based playwright Maura Knowles, to which Nathania is providing compositions) are three of the charming works that she has created so far. Her voice’s character in combination with her unique and soaring compositions creates a beautiful and transcendent sonic experience, which evokes feelings of being led into a fairy tale. Currently, she is building her music portfolio as she continues to explore writing for musical theater. Nia is rightfully deserving of a successful musical career due to her persistence and commitment to her passion and fascination with music that she has possessed since she was a young girl, and I am confident her recent awards from the Berklee College of Music’s Curtain Up! competition will prove to be the first of many more to come.

I am honored to be so close to someone as talented as Nathania Wibowo, and I look forward to watching her career continue to grow as she creates more masterpieces.

Keep up the great work, Nathania Wibowo!

 

IMG_2217

(Photo courtesy by : Stevano)

 

Enjoy her works on:

http://www.nathaniawibowo.com/

 

Generasi Muda Bisa Apa?

Setiap kita pasti pernah muda. Dan bagi saya yang (mengaku diri) masih muda, ada suatu hasrat berkobar dalam jiwa muda saya. Saya yakin ini tidak terjadi dalam gejolak jiwa saya saja. Harusnya setiap kaum muda merasakannya. Mungkin usia tidak selalu muda, namun jiwa selalu dapat dipelihara agar tetap muda. Bagaimana mungkin?

Teruslah belajar untuk menjadi yang terbaik. Sekali-kali bukan untuk ambisi pribadi atau atas dasar kesombongan, namun untuk menjadi suatu generasi bintang yang bersama-sama bisa maju, menjadi bercahaya. Generasi bukan bicara soal individu. Generasi bicara rakyat kebanyakan, Menerangi dan diterangi. Generasi bicara soal saling mendukung untuk selalu mau belajar. Bukankah setiap jiwa perlu belajar, bahkan hingga hembusan nafas terakhir? Bicara soal bintang, bintang pasti memiliki kilau. Kilau itu bahkan bisa bercahaya dan terlihat dari kejauhan. Setiap kita pun punya kilau bernama talenta. Talenta ini adalah anugerah cuma-cuma dari Maha Kuasa, agar kita mampu mengusahakan kehidupan kita. Kilau itu akan semakin bersinar, bila kita mau terus memeliharanya dengan belajar mengembangkan kilau, dan bersyukur akan anugerah yang sudah kita dapatkan. Namun, kilau bisa saja redup. Ketika kita lupa akan syukur dan bergegas menjadi produsen keluh, jiwa muda ini pun akan tampak tua karena meredupnya kilau sang bintang. Sekali kita menjadikan keluh sebagai kebiasaan kita, selanjutnya akan mudah sekali untuk terus menerus mengeluh. Menyalahkan keadaan atas setiap keberadaan, bukannya mengusahakan sesuatu dari balik niat dalam jiwa muda kita. Perlahan tapi pasti, bila keluh dipelihara dan lupa akan syukur, semakin mereduplah kita dan menjauh dari generasi bintang yang berkilau. Akibatnya semakin rendah dirilah kita dan tidak mampu lagi untuk kembali bersinar. Hentikan keluh dalam diri kita! Buat itu menjadi syukur yang tak terhingga. Tuhan yang sama menganugerahi kita setiap oksigen, Ia tidak memandang besarnya amal ibadah kita, siapa kita apakah Presiden atau pengemis, dan dari latar belakang mana kita berasal. Sekejap mari merasakan syukur itu, merasakan anugerah cuma-cuma yang tanpa pilih kasih.

Pancaran kilau sang bintang selalu akan terekpos. Tidak perlu untuk menjadi bintang paling berkilau seperti matahari, yang dengan kilaunya membuat silau bintang sekelilingnya, juga menghalangi cerahnya jalanan masa depan. Jadilah bintang yang bisa menempatkan diri dengan baik. Bintang yang selalu menerangi di atas, agar jalanan di masa depan terlihat dengan jelas. Bintang yang bersinar dengan elegan, penuh percaya diri dan yakin, tanpa perlu sombong. Teruslah berkarya, dengan penempatan diri yang benar. Fokus akan tujuan dari karya, bukan demi gagah kuatnya diri. Generasi muda butuh ini, butuh suatu gerakan berkarya dalam diri, dengan tempat dan waktu yang tepat. Generasi muda perlu informasi luas demi tercapainya ide kreatif sepanjang masa. Saya, sebagai salah satu generasi muda, yakin bahwa ide kreatif menjadi nama tengah untuk generasi muda. Ide kreatif membawa angin segar untuk selalu mengembangkan banyak hal dari zaman ke zaman. Dengan rasa syukur, dibumbui ide kreatif, dibalut komitmen tinggi, dan disertai penempatan diri dan semangat belajar, niscaya generasi ini menjadi generasi bintang yang berkilau tanpa henti.

sebuah tulisan untuk:
#PatriotIsMe #Advan #DamnILoveIndonesia

Bila nurani berkata ‘YA’

Dua minggu ke belakang, saya dilanda rasa ingin menulis sesuatu berbau politik. Bukan sok ikut-ikutan mau berpolitik, hanya merasa saya peduli akan nasib bangsa ini. Pemilihan Presiden tinggal menghitung jam, dan saya beserta jutaan jiwa di negeri ini harusnya mampu peduli meramaikan pesta demokrasi. Suatu pesta yang seharusnya diisi oleh kita sebagai kita, yang menjadikan harga tiap-tiap suara kita sama, tidak mengenal siapa kita, apa latar belakang kita, hanya satu, Indonesia.

Berani memilih, berani peduli mana yang harus dipilih, berani mengerti siapa yang pantas dipilih. Semuanya butuh dasar. Butuh bukti. Bukti keyakinan untuk bisa benar-benar memilih. Indonesia, tanah yang kita pijak, bagian dunia di tenggara Asia ini butuh masa depan yang patut diperjuangkan. Pilihan kita merupakan perjuangan itu. Kenali suara hati, selidiki mata hati. Hadirkan kesejukan dalam memilih yang terbaik dari yang ada.

Presiden, seorang pemimpin bangsa, pun manusia. Tidak luput dari sempurna. Tidak jauh dari kata maaf. Namun nurani ini butuh pemimpin baik. Butuh inspirasi untuk perjuangkan bangsa ini. Ia yang hadir dari rakyat, melalui rakyat, dan tentu untuk rakyat. Dimana nurani kita sebagai rakyat, bila kita tidak mampu memperjuangkannya? Tidak perlu cela untuk kubu lawan, cukup lontarkan senyum kekaguman untuk niat baik mereka memimpin negeri. Namun bila nurani berkata ya untuk pilihan yang ditetapkan, percayalah semuanya akan indah pada waktuNya. Coblos dengan tulus, dengan nurani yang terbebas dari belenggu, dengan nurani yang terhubung langsung pada jaringan Sang Maha Kuasa. Bukan karena rentetan seri kertas bertitel uang atau kekuasaan sepihak yang akhirnya menggeser integritas lubuk hati.

Nurani ini tahu betul kemana hawa sejuk bertiup.

Selamat melaju ke balik bilik suara!
Selamat memilih mereka yang pantas dipilih!
Dan bila esok lusa nurani tidak mampu menangkan pilihan kita, mari tetap cintai bangsa, tanpa lupa jati diri dimana kita berpijak.

Salam erat pecinta negeri.

Soal SARA : hadiah dan pilihan.

Sementara desas-desus soal SARA semakin bingar, saya berpikir keras tentang perlunya SARA diperbincangkan sampai menjadi pro dan kontra yang demikian hebat.

Indonesia merupakan negara ragam. Ragam kultur, bahasa, pulau dan banyak lagi. Hidup di negeri ini harusnya membuat kita mampu berpikir soal keberagaman yang semestinya tidak perlu dipersoalkan, tetapi menjadi suatu keberagaman yang menguntungkan.

Saya lahir dan besar di tanah Sunda dari orangtua berdarah keturunan Cina. Pernahkah saya memilih saya lahir dimana, dengan warna kulit apa, dan keluarga siapa? Tentu itu pertanyaan konyol yang tidak butuh jawaban. Hal semacam ini tidak butuh penjelasan. Maha Kuasa yang memang mengaturnya menjadi suatu hadiah. Bicara soal hadiah, harusnya itu sesuatu yang membahagiakan, menyenangkan, dan tentunya tidak untuk dipersoalkan (wong hadiah koq) .

Sejak kecil, saya dibesarkan dengan tata cara Kristen Katolik yang taat. Mengikuti setiap perayaan demi perayaan dengan khidmat, apalagi saya sempat menjadi putra altar yang cukup paham soal tata cara perayaan Katolik. Hingga suatu hari saya dikenalkan dengan paham Kristen yang lebih liberal, tidak terikat dengan pakem-pakem liturgi, dan sejalan dengan jaman. Disini saya memutuskan memilih, masih sama-sama Kristen namun berganti cara berhubungan dengan Maha Kuasa.

Menarik karena dua ilustrasi yang saya lakoni seolah bertolak belakang. Namun, keduanya sama pentingnya. Hadiah dari Maha Kuasa, dan pilihan untuk Maha Kuasa. Ada semacam kesinambungan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hal pertama, tanpa pilihan dan menerima diri apa adanya sebagai hadiah. Bahwa saya orang Sunda berdarah Cina, sama sekali tidak dapat request pada sang Maha Kuasa (terima jadi saja). Hal kedua, memilih agama menjadi pegangan hidup pada MahaKuasa yang telah memberikan hadiah. Betul ini pilihan, tapi pilihan hati untuk menentukan mana yang sesuai dengan sikap diri yang terbentuk. Tidak perlu dipaksakan, juga tidak perlu diperdebatkan. Semuanya soal hubungan dengan Maha Kuasa. Soal berterimakasih atas hadiah yang sudah diberikan saat kita hadir pertama di dunia tanpa bisa memilih.

Setelah merenungi kedua hal tadi, saya menggelengkan kepala keras ketika masih saja ada banyak desas-desus soal SARA. Miris ketika masih saja program berita di TV melaporkan soal rusuhnya rumah warga yang diserang karena sedang melakukan ibadah keagamaan. Atau headline news yang memuat berita soal para calon pemimpin yang diisukan soal status agamanya. Ilustrasi sederhana yang saya utarakan tadi sesungguhnya cukup menjawab seberapa legowo nurani ini butuh kesadaran.

Bukankah lebih indah bila menerima hadiah dari Sang Maha Kuasa dan lalu kemudian bergegas bebas menentukan pilihan untuk bersyukur pada Sang Maha Kuasa?

Sebuah Penawaran untuk Memperbesar Kapasitas Diri.

Sejenak rasa itu hinggap seperti sebuah angin kencang yang menerpa wajah.
Membuat diri seolah kaku tak mampu bergeming mendengarnya.
Suatu penawaran menyangkut hidup dan masa depan, suatu bakal komitmen yang tidak mudah dan butuh cekatan menguasainya.
Sesak di dada muncul ketika harus berpikir soal rasa itu.
Ingin untuk menghentikan waktu sekedarnya dan kembali pada taman riang penuh celoteh dan canda tawa.
Ingin untuk menghilang sejenak dan berpindah pada dimensi yang menjanjikan mimpi-mimpi besar penuh hasrat dan tawaran menggiurkan.
Tapi cepat atau lambat penawaran ini akan setia menanti di ujung jalan, melambaikan tangan segera ingin disambut.
Mungkin ini bukan tentang mengambil pilihan pintu mana yang akan diterobos lebih dalam lagi, tetapi ini soal pilihan untuk mau memperbesar kapasitas dari tanggung jawab yang semakin besar, atau tetap membiarkan kapasitas diri menjadi berjalan pada tempatnya.

Gelisah di hati ini harus segera diselesaikan. Luapan doa sudah disampaikan dan bisikNya perlahan berhasil didengar. Ada suatu keputusan besar yang perlu diambil di depan mata. Ada suatu paradigma baru yang akan dibukakan di langkah berikutnya. Kuatir dan prasangka perlu ditindas dengan modal tekad dan iman matang.
Biarkan ini semua menjadi campur tangan Maha Kuasa untuk memperbesar kapasitas diri.
Biarkan tanggung jawab ini bukan menjadi beban yang dijunjung tinggi dengan gerutu dan sesal, tapi menjadi pekerjaan tangan Maha Kuasa untuk membuktikan kebesaranNya.

Dan Biarkan otak ini mampu memikirkannya, serta hati ini merasakannya.

Saya tidak merokok, dan itu pilihan saya.

Seumur hidup saya hingga saat ini, saya tidak pernah menghisap sebatang rokok sekalipun. Ini bagian dari prinsip saya untuk tidak membakar uang yang saya hasilkan dan perlahan-lahan membakar organ tubuh saya hanya demi sebuah guilty pleasure. Saya harap ini bisa berlangsung hingga saya mati, supaya saya tidak perlu tau soal seni merokok seperti yang mereka dengungkan sebagai suatu pembelaan manis.

Merokok atau tidak menjadi keputusan tiap orang. Saya tidak menyalahkan mereka yang memilih untuk merokok. Sama sekali tidak, asal mereka tahu resiko mereka sebagai perokok. Yang saya salahkan adalah mereka membagi resiko pilihan mereka itu dengan saya dan teman-teman para anti-rokok. Kerap kali saya masih menemukan mereka, para perokok, yang merokok di depan umum, di kalangan mereka para anti-rokok. Bukankah itu suatu ketidakadilan akan suatu keputusan?

Saya merasa punya tanggung jawab atas diri saya dengan memilih untuk tidak merokok. Juga atas kesehatan jasmani serta kesehatan finansial saya. Mereka, para perokok, harusnya juga punya tanggung jawab untuk itu, atau setidaknya untuk sadar akan tanggung jawab mereka untuk tidak merokok di lingkungan umum. Pernah ada gumaman teman saya, supaya mereka para perokok, mukanya dibungkus plastik, agar pilihan asap rokok yang mereka timbulkan, bisa mereka nikmati langsung tanpa perlu tercemar pada udara tanpa dosa. Memang tidak mungkin sepertinya gumaman teman saya itu, tapi dari situ saya berpikir dalam bahwa kesadaran lagi-lagi menjadi kunci. Kalau tanda dilarang merokok hanya menjadi hiasan, atau peringatan dilarang merokok di depan umum hanya menjadi nasihat tanpa dengar, bukankah satu-satunya yang diperlukan hanya suatu rasa sadar untuk memilih apa yang mereka pilih?

Saya tidak merokok, dan itu pilihan saya.

*tulisan ini terinspirasi suatu obrolan di Path seorang teman terganggunya Ia akan perokok depan umum.

Syukur

Sudut jendela hari itu, ketika semilir angin menerpa kulit ari sepoi-sepoi.
Telinga ini, sebelah kanan mendengar irama konstan titik hujan Sang Alam.
Di kiri terdengar sayup melodi dari playlist lagu andalan.
Kolaborasi ini semacam paduan menarik suatu kualitas waktu.
Ketika tiba saatnya hanya bisa menikmati waktu, tanpa hingar bingar kerja keras atau interupsi diskusi.
Tiap manusia butuh ini, suatu momen hanya untuk menikmati.
Menarik nafas panjang sambil berdecak kagum akan Anugrah yang Maha Kuasa beri.
Berdua dengan Maha Kuasa, berdialog lewat hati.

Dan memang,
Sudut jendela hari itu, ketika syukur menjadi satu-satunya rasa dalam benak.