Tentang Terima Kasih

Syukur untuk tiap nafas yang IA berikan padaku kemarin, hari ini dan seterusnya.Untuk setiap karya yang IA berikan melalui aku. #kicaupuitis

28 Mei 2011

Ketika kita bersungguh padaNya, ada rasa bahagia yang melebihi dari berbagai kesenangan duniawi sesaat. #kicaupuitis

19 September 2011

Sampaikan salam untuk pulau, yang akan kau jelajahi besok, bahkan lusa. Ucapkan mantra bahagia untuk alam dashyat penuh pesona. #kicaupuitis

11 Maret 2013

Lewat rintik hujan, kusampaikan salam dari dingin senja. Kusematkan doa utk nikmat yg tak terhenti, untuk syukur yg tak terbatas. #kicaupuitis

5 Juli 2013

Lebih besar dari emas dan perak, hadiratMu. Dalam jiwaku, aku bersorak tenang dan bangga. Engkau hebat, dan namaMu indah selamanya. #kicaupuitis

12 September 2013

Bahwa setiap tarikan nafas adalah nikmat yang sangat disyukuri, dan Pemberi Nikmat memang selalu mengejutkan dengan ajaibnya gerak hidup. #kicaupuitis

19 September 2013

Terimakasih malam, untuk setia mengerti, berujar berkat, dan bersenandung kebenaran . Terimakasih malam, untuk doa terucap lewat bibir penuh syukur. #kicaupuitis

16 Maret 2014

Tentang Terima Kasih

adalah kumpulan #kicaupuitis yang ditulis melalui kicauan sederhana di Twitter, suatu bagian dari permainan kata yang terujar dari rasa.

Advertisements

Nasionalisme 18 Agustus

Wara wiri timeline di tanggal 17 Agustus kemarin, membuat saya ingin merenung dalam akan semangat Nasionalisme yang berkobar di hati dan pikir para pengguna social media. Bangga karena banyak sekali yang mengucap soal Nasionalisme. Merasa bahwa tanah air ini adalah milik kita. Bangga bahwa bangsa besar ini sudah merdeka dari penjajah tujuhpuluh tahun lamanya. Bangga karena bendera Merah Putih dapat terbentang dalam gelora angkasa tertiup angin bebas. 

Berpikir lebih dalam lagi, ada harap yang akhirnya kemudian muncul. Ada harap yang memohon untuk membuat ucapan selamat atas bangsa ini bukan hanya berujung cuap. Tetapi betul bahwa Nasionalisme memang didengungkan setiap hari. Menjadi nafas dalam mengambil bagian dalam semangat muda Nusantara. Nasionalisme bukan sekedar selebrasi kreatif sehari di tujuhbelasan. Nasionalisme ada di tanggal delapanbelas, sembilanbelas, duapuluh, dan seterusnya. Nasionalisme berada dalam sanubari. Ia mau mengambil tanggungjawab, bukan sekedar sebagai diri, namun lebih daripada itu, Ia mau mengambil tanggungjawab sebagai bagian dari bangsa besar ini.

Nasionalisme setidaknya mampu menghargai karya anak bangsa, bukan mencibir. Ia juga mampu bersikap adil dan sportif dalam perlombaan dunia. Nasionalisme setidaknya juga mampu menghargai Nusantara sebagai alam kaya raya, bukan mengeksploitasi alam dengan ego belaka. Nasionalisme untuk membuat udara bangsa ini bersih dari polusi asap rokok, dan lebih bertanggungjawab untuk tahu dimana seharusnya membuang kotoran dan sampah. 

Tidak perlu terlalu muluk untuk berpikir jauh soal Nasionalisme. Sesederhana mengucap selamat akan negeri ini yang telah merdeka tujuhpuluh tahun lalu saja. Mengambil bagian kecil dari semangat Nasionalisme satu hari, sewajarnya membuat kita menjadi lebih wajar bertindak sebagai bagian dari bangsa ini. Lupakan ego soal diri dan kobarkan semangat Nasionalisme yang didengungkan di tanggal tujuhbelas, sehingga Nasionalisme tidak dijumpai hanya setahun sekali, tetapi setiap hari di sepanjang tahun. 

Semangat ’45. Selalu. Sepanjang tahun. 

Kala Fajar

Merah menjingga, itu hadirMu kala fajar.

Lewat Senin ketika waktu mengetuk lima, hampir enam.

Jiwa ini merasa, betapa hebat kuasaMu, betapa agung.

Melankoli ini semacam bercerita otomatis.

Romantisnya Engkau mengirim suatu pesan lewat warna. 
Terimakasih Semesta, untuk setiap rindu yang tersampai dalam.

Terimakasih Semesta, untuk setiap warna yang terpampang nyata. 

Terimakasih Semesta, untuk setiap pesan yang terpatri jelas.

sebuah Catatan untuk Filosofi Kopi

Saya terkesima menyaksikan FILOSOFI KOPI karena ceritanya di-develop sedemikian baik tanpa merusak ide cerita pendek dari sang penulis, Dewi Lestari. Filosofi Kopi seperti memiliki dosis pas tanpa perlu membual terlalu banyak. Setelah Cahaya dari Timur, Angga Dwi Sasongko sukses menyuguhkan Filosofi Kopi dengan rasa yang punya kelas. 
Meskipun Ben’s Perfecto bukan kopi terbaik di film ini, bagi saya scene dimana Ben’s Perfecto tercipta adalah scene yang magical dan sangat sulit dilupakan. Lagi-lagi Angga mengemasnya dengan sederhana namun penuh “roh”. Scene tersebut seperti mengajak kita bersorak bersama berkat kesuksesan seorang Ben, barista idealis nan obsesif, dalam keheningan sorak. Cast utama film ini, Chicco Jerikho, lagi-lagi bersinar terang memerankan tokoh Ben sang barista. Chicco, yang juga duduk di kursi Executive Producer, mampu memerankan tokoh idealis ini dengan sangat real dan lepas. Chemistry-nya dengan Rio Dewanto (sebagai Jodi) dan Jullie Estelle (sebagai El) juga menggambarkan betapa film ini tepat memilih setiap cast yang ada. Disusul nama-nama besar seperti Slamet Rahardjo dan Jajang C.Noer yang semakin melengkapi takaran dosis yang saya sebut Pas di awal narasi ini. Cameo-cameo seperti Joko Anwar, Mellisa Karim, dan Tara Basro juga menambah sempurnanya film tentang kopi ini. 
Excitement saya tentang film seperti ditambahkan dosisnya dengan excitement saya terhadap kopi. Saya memang bisa dibilang baru menyukai kopi. Itupun bukan kopi-kopi kelas berat tanpa campuran susu dan gula. Tapi dari film ini, saya melihat bahwa sesuatu yang passionate dapat membuat hal yang dicipta menjadi sesuatu yang punya kelas tersendiri. Filosofi Kopi mengingatkan kembali tentang murninya sebuah passion diiringi komitmen yang tinggi yang mampu mengantarkan pada gerbang sukses. Filosofi Kopi juga mengembalikan ingatan saya akan pentingnya keseimbangan antara pikiran dan rasa, antara otak dan hati. 

dan saya masih terjaga akibat candu kafein yang tertular melalui FILOSOFI KOPI..


menjadi “Saat Ini”

Zaman sudah menggeser makna menjadi suatu yang tidak lebih hangat dari sebelumnya. Manusia zaman sibuk berlaku dan bercitra melalui sesuatu yang tidak langsung. Lebih memilih untuk bertekun dalam setiap baris kata yang diketik lewat tombol aksara dibanding temu muka melepas rindu. Juga lebih senang mengabadikan citra lewat balik lensa daripada menikmati melambatnya waktu bersama. 

Memang zaman seperti memudahkan sesuatu yang rasanya jauh secara jarak untuk tetap berelasi. Namun zaman juga seperti membuat sesuatu yang hangat dari lingkar terkecil jiwa menjadi punya jarak yang harusnya tidak. Klise. Kehangatan yang tadinya menjadi pencarian jiwa kini beralih pada sesuatu yang terlalu sederhana dan kehilangan esensi. Zaman kini seperti membiarkan hilangnya esensi kebersamaan. 

Entah seberapa sering manusia zaman menoleh layar penuh tahu-nya untuk sekedar berkomunikasi dengan dunia. Entah seberapa sering Ia lupa akan kehidupan di depan matanya yang sebenernya sangat sayang untuk dilewatkan. Entah seberapa sering Ia kehilangan momen menikmati rasa syukur yang MahaKuasa tawarkan detik itu. Entah.
Dan manusia zaman itu adalah aku, yang sering lupa akan keberadaan hari. Aku yang lebih gemar mencari sesuatu di luar sana tapi lupa akan apa yang telah dan sedang dimiliki. Aku yang sering lupa bersyukur akan detik ini dan lebih sering menggerutu demi masa depan. Dan, aku yang sedang mencoba untuk berada pada saat ini, saat dimana aku semestinya berada, menanti dan menikmati.
Zaman menawarkan distraksi pada manusia, namun manusia zaman harusnya mampu memilih dimana sekarang kita ingin “berada” saat ini. 

Terima Kasih Semesta

Detik mengayuh kencang lewat putaran denyut nadi dan pompa darah lewat jantung. Tak terasa nyawa ini kembali mengulang selebrasi. Selebrasi atas cahaya pertama yang dirasa ketika sampai di lapisan planet bernama Bumi. Mendadak Bumi hingar bingar kena teriak tangis makhluk, dua puluh delapan tahun lalu. Tepat hari Sabtu, seperti hari Sabtu yang sedang aku rasakan.
Lewat wanita penuh juang tanpa operasi instan, aku lahir ke Bumi bermandikan darah warna merah gelap. Teriak tangisku malah disambut tawa bahagia bernama Hidup, suatu nafas baru ketika sampai ke lapisan Bumi. Ah, begitulah proses lahir makhluk bernama manusia yang aku kenal lewat sosokku sendiri.
Selepas itu, aku berkenalan dengan Belajar, proses menguasai hal-hal baru yang berkaitan dengan rasa ingin tahu. Manusia dengan segala ketidakpuasan melebur dengan bekal ilmu dan informasi yang mengalir deras lewat ciptaan-ciptaan Semesta melalui dunia. Dan aku terus ingin belajar, seiring detik yang mengayuh kencang, begitu seterusnya.
Kini, melalui selebrasi itu, aku ingin bersyukur atas kejadianku. Aku bersyukur atas rencana Semesta atasku sampai hari ini. Aku bersyukur karena aku mengerti rencana Semesta dan ingin mewujudkannya dalam setiap kontribusi untuk Bumi.
Terimakasih Semesta atas anugerah tak henti yang Engkau hembuskan dalam setiap nafas hidup. Dan anugerah itu kupercaya akan terus terhembus, tanpa henti, seiring janji untuk terus berjalan dalam jalur Sang Semesta.

Terima Kasih.

Mazmur 139: 14-16

Dear Nataneka

Malam ini saya terusik untuk bercerita tentang sebuah Company di bilangan Kuningan,Jakarta. Sebuah Kantor berdimensi 6x6x6meter dengan para penghuni unik yang membangunkan rasa kangen Saya.

Setahun lalu, Saya resmi mengundurkan diri (secara terhormat tentunya) dari kantor ini. Resmi keluarnya Saya dari kumpulan makhluk Tuhan paling unik (menurut versi saya) memang sempat memberatkan Saya karena sudah terlalu lama menjalani rutinitas yang penuh drama serta tawa ringan. Saya termasuk salah satu makhluk pertama yang menjadi warga baru ketika company tersebut pindah ke bilangan Kuningan. Sebelumnya Saya sempat menikmati model lama company tersebut selama tiga bulan di bilangan Kebayoran Baru.

Di Kantor ini, Saya belajar banyak hal dari para senior termasuk kedua principal Saya. Mereka lebih sering mengajar daripada menghajar. Menaikkan standar selera dengan obrolan menarik yang tidak melulu tentang arsitektur dan desain. Memberikan berbagai info menarik tentang gaya hidup dan atributnya untuk tips kami menjalani karier sebagai desainer. Mengasyikkan. Bekal imajiner yang tidak semua desainer muda bisa dapatkan. Saya juga belajar banyak hal dari rekan-rekan sejawat, bukan hanya tentang ilmu arsitektur, tapi karakter tiap individu yang memang unik. Penggila zodiac, penganut paham proporsi, cuek man, movie freaks, kepoboy,bhipster jakarta, petlover dan banyak lagi. Tawa dan canda sambil bergulat dengan detail-detail arsitektural menjadi keseharian kami. Di sela-sela itu kami juga punya breaktime menghirup udara luar karena jenuhnya kantor akibat minor ventilasi. Atau ketika graphic kerjaan sedang rendah, kami bisa-bisanya menonton film bersama di mezzanine teater di atas.

Oh sempat juga kami mengadakan architectural trip ke dua negara tetangga setahun dan dua tahun lalu. Kejar-kejaran MRT supaya tidak menunggu lama lagi, atau terlambat bangun untuk segera check out dari hotel menuju airport menjadi drama-drama trip kami. Atau pengalaman yang lebih arsitektural adalah mengunjungi St.Mary of the Angels Church di suatu sabtu pagi, juga memburu sketsa tangan dan tandatangan para arsitek kondang dunia di ASA FORUM, salah satunya Takaharu Tezuka, arsitek paling rendah hati yang pernah saya temui. Pengalaman tak terganti karena rasa yang pasti berbeda.

Banyak suka dan dukanya ketika membicarakan tentang company ini. Tapi saya lebih ingin bercerita sukanya menjalani rutinitas bersama. Kesukaan ini, meskipun menjadi rindu yang tak ada obatnya, jelas menjadi bekal saya sekarang dan di kemudian hari, karena saya pernah belajar disana. Belajar desain,arsitektur,dan hidup.

Salam rindu untuk Para Penghuni Nataneka.

*tulisan ini dibuat sebagai selebrasi satu tahun saya mengundurkan diri dari Nataneka.

Setiap kata ‘YA’ untuk komitmen yang kita buat, adalah setiap wujud kepercayaan Sang Maha Kuasa yang diberikan kepada kita.

Jalanan macet, Otak tidak perlu ikut macet

Jakarta saat ini sedang dihadapkan pada bencana banjir tahunan. Saya masih ingat, setahun lalu di awal bulan Januari yang masih terbawa euphoria pergantian tahun, terjadi kehebohan bencana banjir. Persis sama, tahun ini peristiwa itu terjadi lagi.

Debit air yang turun, curah hujan yang tinggi, alami terjadi. Maha Kuasa mengaturnya dengan berbagai kehendak yang saya yakin telah direncanakan dengan matang. CiptaanNya ini yang terkadang terlena akan anugerah yang dirasa bisa dan berhak dinikmati. Menjadi lupa untuk bersikap lebih bijak agar bencana yang tidak perlu terjadi itu menjadi ada. Bahkan lupa untuk bahkan bersikap bijak ketika peristiwa yang ‘katanya’ merugikan mereka terjadi, tetapi malah lebih senang menjadi para produsen komentar dengan list panjang caci maki sambil tetap diam tanpa ada aksi.

Hari ini, lagi-lagi selain hujan, Jakarta juga dihebohkan dengan berita macet. Entah macet yang disebabkan oleh banjir atau bukan. Yang pasti, saya melihat beberapa pengguna jalan mulai mau berjalan kaki dengan jarak yang masih relevan ditempuh. Cukup senang mendengarnya karena memang jarak jalan yang relevan seharusnya bisa ditempuh dengan kedua kaki ini. Jika jalanan macet, apakah otak kita juga ikut macet untuk berpikir sekedar lebih bijak? Mengingat bahwa pengguna jalan bukan hanya kita, tetapi jutaan lainnya yang berjejal bersusah payah di jalan. Lebih baik kita membantu Pemerintah berbenah diri menciptakan trotoar ‘kosong’ menjadi lebih nyaman lagi. Tidak perlu drama untuk sekedar berjalan kaki, itu menyehatkan bila ruang kota kita meminimalisir jumlah kendaraan bermotor.

Hari-hari ini, Jakarta seperti memiliki banyak cermin bagi saya. Mereka yang berteriak, mereka perlu cermin. Mereka yang diam, pun butuh cermin. Mari mengubah pikiran tanpa perlu drama dan ego. Lebih banyak berjalan kaki, menciptakan ruang kota yang minim polusi, dan akhirnya menjadi nyaman dengan kedua kaki. Mari berdoa, bukan untuk bencana ini-itu saja, tetapi bencana pola pikir yang menghiasi batas ego para manusia Jakarta.

Selebrasi Rasa di Tahun Baru

Syukur untuk tahun yang lalu, yang selebrasinya dirayakan dalam hitungan detik.
Hitung mundur waktu, yang padahal terus bergerak maju.
Tak apa rasanya merayakannya dengan hitungan mundur, asalkan pikiran tetap bergerak maju.
Tak apa juga rasanya merayakan dengan detik yang diabadikan, asalkan setahun yang ditempuh menjadi refleksi untuk terus berlaku lebih benar, bukan sekedar baik.

Dentuman kembang api dan pesta rakyat mungkin sedang di sekitarmu.
Atau ada tawa sahabat dan renungan keluarga untuk merayakannya.
Tapi saya memilih menuliskan apa yang menjadi rasa, agar terefleksi semua yang telah ditempuh.
Dan harap juga asa untuk sekedar merencana bisa terlaksana, agar mampu menyambut mentari Satu Januari nanti dengan yakin dan pasti.

Selamat Tahun Baru, Bumi.
Biarlah malam ini menjadi suatu selebrasi menarik,
merasa apa yang seharusnya dirasa,
mengingat apa yang seharusnya diingat,
merencana apa yang seharusnya direncana.