Dear Nataneka

Malam ini saya terusik untuk bercerita tentang sebuah Company di bilangan Kuningan,Jakarta. Sebuah Kantor berdimensi 6x6x6meter dengan para penghuni unik yang membangunkan rasa kangen Saya.

Setahun lalu, Saya resmi mengundurkan diri (secara terhormat tentunya) dari kantor ini. Resmi keluarnya Saya dari kumpulan makhluk Tuhan paling unik (menurut versi saya) memang sempat memberatkan Saya karena sudah terlalu lama menjalani rutinitas yang penuh drama serta tawa ringan. Saya termasuk salah satu makhluk pertama yang menjadi warga baru ketika company tersebut pindah ke bilangan Kuningan. Sebelumnya Saya sempat menikmati model lama company tersebut selama tiga bulan di bilangan Kebayoran Baru.

Di Kantor ini, Saya belajar banyak hal dari para senior termasuk kedua principal Saya. Mereka lebih sering mengajar daripada menghajar. Menaikkan standar selera dengan obrolan menarik yang tidak melulu tentang arsitektur dan desain. Memberikan berbagai info menarik tentang gaya hidup dan atributnya untuk tips kami menjalani karier sebagai desainer. Mengasyikkan. Bekal imajiner yang tidak semua desainer muda bisa dapatkan. Saya juga belajar banyak hal dari rekan-rekan sejawat, bukan hanya tentang ilmu arsitektur, tapi karakter tiap individu yang memang unik. Penggila zodiac, penganut paham proporsi, cuek man, movie freaks, kepoboy,bhipster jakarta, petlover dan banyak lagi. Tawa dan canda sambil bergulat dengan detail-detail arsitektural menjadi keseharian kami. Di sela-sela itu kami juga punya breaktime menghirup udara luar karena jenuhnya kantor akibat minor ventilasi. Atau ketika graphic kerjaan sedang rendah, kami bisa-bisanya menonton film bersama di mezzanine teater di atas.

Oh sempat juga kami mengadakan architectural trip ke dua negara tetangga setahun dan dua tahun lalu. Kejar-kejaran MRT supaya tidak menunggu lama lagi, atau terlambat bangun untuk segera check out dari hotel menuju airport menjadi drama-drama trip kami. Atau pengalaman yang lebih arsitektural adalah mengunjungi St.Mary of the Angels Church di suatu sabtu pagi, juga memburu sketsa tangan dan tandatangan para arsitek kondang dunia di ASA FORUM, salah satunya Takaharu Tezuka, arsitek paling rendah hati yang pernah saya temui. Pengalaman tak terganti karena rasa yang pasti berbeda.

Banyak suka dan dukanya ketika membicarakan tentang company ini. Tapi saya lebih ingin bercerita sukanya menjalani rutinitas bersama. Kesukaan ini, meskipun menjadi rindu yang tak ada obatnya, jelas menjadi bekal saya sekarang dan di kemudian hari, karena saya pernah belajar disana. Belajar desain,arsitektur,dan hidup.

Salam rindu untuk Para Penghuni Nataneka.

*tulisan ini dibuat sebagai selebrasi satu tahun saya mengundurkan diri dari Nataneka.

Advertisements

Generasi Muda Bisa Apa?

Setiap kita pasti pernah muda. Dan bagi saya yang (mengaku diri) masih muda, ada suatu hasrat berkobar dalam jiwa muda saya. Saya yakin ini tidak terjadi dalam gejolak jiwa saya saja. Harusnya setiap kaum muda merasakannya. Mungkin usia tidak selalu muda, namun jiwa selalu dapat dipelihara agar tetap muda. Bagaimana mungkin?

Teruslah belajar untuk menjadi yang terbaik. Sekali-kali bukan untuk ambisi pribadi atau atas dasar kesombongan, namun untuk menjadi suatu generasi bintang yang bersama-sama bisa maju, menjadi bercahaya. Generasi bukan bicara soal individu. Generasi bicara rakyat kebanyakan, Menerangi dan diterangi. Generasi bicara soal saling mendukung untuk selalu mau belajar. Bukankah setiap jiwa perlu belajar, bahkan hingga hembusan nafas terakhir? Bicara soal bintang, bintang pasti memiliki kilau. Kilau itu bahkan bisa bercahaya dan terlihat dari kejauhan. Setiap kita pun punya kilau bernama talenta. Talenta ini adalah anugerah cuma-cuma dari Maha Kuasa, agar kita mampu mengusahakan kehidupan kita. Kilau itu akan semakin bersinar, bila kita mau terus memeliharanya dengan belajar mengembangkan kilau, dan bersyukur akan anugerah yang sudah kita dapatkan. Namun, kilau bisa saja redup. Ketika kita lupa akan syukur dan bergegas menjadi produsen keluh, jiwa muda ini pun akan tampak tua karena meredupnya kilau sang bintang. Sekali kita menjadikan keluh sebagai kebiasaan kita, selanjutnya akan mudah sekali untuk terus menerus mengeluh. Menyalahkan keadaan atas setiap keberadaan, bukannya mengusahakan sesuatu dari balik niat dalam jiwa muda kita. Perlahan tapi pasti, bila keluh dipelihara dan lupa akan syukur, semakin mereduplah kita dan menjauh dari generasi bintang yang berkilau. Akibatnya semakin rendah dirilah kita dan tidak mampu lagi untuk kembali bersinar. Hentikan keluh dalam diri kita! Buat itu menjadi syukur yang tak terhingga. Tuhan yang sama menganugerahi kita setiap oksigen, Ia tidak memandang besarnya amal ibadah kita, siapa kita apakah Presiden atau pengemis, dan dari latar belakang mana kita berasal. Sekejap mari merasakan syukur itu, merasakan anugerah cuma-cuma yang tanpa pilih kasih.

Pancaran kilau sang bintang selalu akan terekpos. Tidak perlu untuk menjadi bintang paling berkilau seperti matahari, yang dengan kilaunya membuat silau bintang sekelilingnya, juga menghalangi cerahnya jalanan masa depan. Jadilah bintang yang bisa menempatkan diri dengan baik. Bintang yang selalu menerangi di atas, agar jalanan di masa depan terlihat dengan jelas. Bintang yang bersinar dengan elegan, penuh percaya diri dan yakin, tanpa perlu sombong. Teruslah berkarya, dengan penempatan diri yang benar. Fokus akan tujuan dari karya, bukan demi gagah kuatnya diri. Generasi muda butuh ini, butuh suatu gerakan berkarya dalam diri, dengan tempat dan waktu yang tepat. Generasi muda perlu informasi luas demi tercapainya ide kreatif sepanjang masa. Saya, sebagai salah satu generasi muda, yakin bahwa ide kreatif menjadi nama tengah untuk generasi muda. Ide kreatif membawa angin segar untuk selalu mengembangkan banyak hal dari zaman ke zaman. Dengan rasa syukur, dibumbui ide kreatif, dibalut komitmen tinggi, dan disertai penempatan diri dan semangat belajar, niscaya generasi ini menjadi generasi bintang yang berkilau tanpa henti.

sebuah tulisan untuk:
#PatriotIsMe #Advan #DamnILoveIndonesia

Bila nurani berkata ‘YA’

Dua minggu ke belakang, saya dilanda rasa ingin menulis sesuatu berbau politik. Bukan sok ikut-ikutan mau berpolitik, hanya merasa saya peduli akan nasib bangsa ini. Pemilihan Presiden tinggal menghitung jam, dan saya beserta jutaan jiwa di negeri ini harusnya mampu peduli meramaikan pesta demokrasi. Suatu pesta yang seharusnya diisi oleh kita sebagai kita, yang menjadikan harga tiap-tiap suara kita sama, tidak mengenal siapa kita, apa latar belakang kita, hanya satu, Indonesia.

Berani memilih, berani peduli mana yang harus dipilih, berani mengerti siapa yang pantas dipilih. Semuanya butuh dasar. Butuh bukti. Bukti keyakinan untuk bisa benar-benar memilih. Indonesia, tanah yang kita pijak, bagian dunia di tenggara Asia ini butuh masa depan yang patut diperjuangkan. Pilihan kita merupakan perjuangan itu. Kenali suara hati, selidiki mata hati. Hadirkan kesejukan dalam memilih yang terbaik dari yang ada.

Presiden, seorang pemimpin bangsa, pun manusia. Tidak luput dari sempurna. Tidak jauh dari kata maaf. Namun nurani ini butuh pemimpin baik. Butuh inspirasi untuk perjuangkan bangsa ini. Ia yang hadir dari rakyat, melalui rakyat, dan tentu untuk rakyat. Dimana nurani kita sebagai rakyat, bila kita tidak mampu memperjuangkannya? Tidak perlu cela untuk kubu lawan, cukup lontarkan senyum kekaguman untuk niat baik mereka memimpin negeri. Namun bila nurani berkata ya untuk pilihan yang ditetapkan, percayalah semuanya akan indah pada waktuNya. Coblos dengan tulus, dengan nurani yang terbebas dari belenggu, dengan nurani yang terhubung langsung pada jaringan Sang Maha Kuasa. Bukan karena rentetan seri kertas bertitel uang atau kekuasaan sepihak yang akhirnya menggeser integritas lubuk hati.

Nurani ini tahu betul kemana hawa sejuk bertiup.

Selamat melaju ke balik bilik suara!
Selamat memilih mereka yang pantas dipilih!
Dan bila esok lusa nurani tidak mampu menangkan pilihan kita, mari tetap cintai bangsa, tanpa lupa jati diri dimana kita berpijak.

Salam erat pecinta negeri.

Soal SARA : hadiah dan pilihan.

Sementara desas-desus soal SARA semakin bingar, saya berpikir keras tentang perlunya SARA diperbincangkan sampai menjadi pro dan kontra yang demikian hebat.

Indonesia merupakan negara ragam. Ragam kultur, bahasa, pulau dan banyak lagi. Hidup di negeri ini harusnya membuat kita mampu berpikir soal keberagaman yang semestinya tidak perlu dipersoalkan, tetapi menjadi suatu keberagaman yang menguntungkan.

Saya lahir dan besar di tanah Sunda dari orangtua berdarah keturunan Cina. Pernahkah saya memilih saya lahir dimana, dengan warna kulit apa, dan keluarga siapa? Tentu itu pertanyaan konyol yang tidak butuh jawaban. Hal semacam ini tidak butuh penjelasan. Maha Kuasa yang memang mengaturnya menjadi suatu hadiah. Bicara soal hadiah, harusnya itu sesuatu yang membahagiakan, menyenangkan, dan tentunya tidak untuk dipersoalkan (wong hadiah koq) .

Sejak kecil, saya dibesarkan dengan tata cara Kristen Katolik yang taat. Mengikuti setiap perayaan demi perayaan dengan khidmat, apalagi saya sempat menjadi putra altar yang cukup paham soal tata cara perayaan Katolik. Hingga suatu hari saya dikenalkan dengan paham Kristen yang lebih liberal, tidak terikat dengan pakem-pakem liturgi, dan sejalan dengan jaman. Disini saya memutuskan memilih, masih sama-sama Kristen namun berganti cara berhubungan dengan Maha Kuasa.

Menarik karena dua ilustrasi yang saya lakoni seolah bertolak belakang. Namun, keduanya sama pentingnya. Hadiah dari Maha Kuasa, dan pilihan untuk Maha Kuasa. Ada semacam kesinambungan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hal pertama, tanpa pilihan dan menerima diri apa adanya sebagai hadiah. Bahwa saya orang Sunda berdarah Cina, sama sekali tidak dapat request pada sang Maha Kuasa (terima jadi saja). Hal kedua, memilih agama menjadi pegangan hidup pada MahaKuasa yang telah memberikan hadiah. Betul ini pilihan, tapi pilihan hati untuk menentukan mana yang sesuai dengan sikap diri yang terbentuk. Tidak perlu dipaksakan, juga tidak perlu diperdebatkan. Semuanya soal hubungan dengan Maha Kuasa. Soal berterimakasih atas hadiah yang sudah diberikan saat kita hadir pertama di dunia tanpa bisa memilih.

Setelah merenungi kedua hal tadi, saya menggelengkan kepala keras ketika masih saja ada banyak desas-desus soal SARA. Miris ketika masih saja program berita di TV melaporkan soal rusuhnya rumah warga yang diserang karena sedang melakukan ibadah keagamaan. Atau headline news yang memuat berita soal para calon pemimpin yang diisukan soal status agamanya. Ilustrasi sederhana yang saya utarakan tadi sesungguhnya cukup menjawab seberapa legowo nurani ini butuh kesadaran.

Bukankah lebih indah bila menerima hadiah dari Sang Maha Kuasa dan lalu kemudian bergegas bebas menentukan pilihan untuk bersyukur pada Sang Maha Kuasa?

Setiap kata ‘YA’ untuk komitmen yang kita buat, adalah setiap wujud kepercayaan Sang Maha Kuasa yang diberikan kepada kita.

Sebuah Penawaran untuk Memperbesar Kapasitas Diri.

Sejenak rasa itu hinggap seperti sebuah angin kencang yang menerpa wajah.
Membuat diri seolah kaku tak mampu bergeming mendengarnya.
Suatu penawaran menyangkut hidup dan masa depan, suatu bakal komitmen yang tidak mudah dan butuh cekatan menguasainya.
Sesak di dada muncul ketika harus berpikir soal rasa itu.
Ingin untuk menghentikan waktu sekedarnya dan kembali pada taman riang penuh celoteh dan canda tawa.
Ingin untuk menghilang sejenak dan berpindah pada dimensi yang menjanjikan mimpi-mimpi besar penuh hasrat dan tawaran menggiurkan.
Tapi cepat atau lambat penawaran ini akan setia menanti di ujung jalan, melambaikan tangan segera ingin disambut.
Mungkin ini bukan tentang mengambil pilihan pintu mana yang akan diterobos lebih dalam lagi, tetapi ini soal pilihan untuk mau memperbesar kapasitas dari tanggung jawab yang semakin besar, atau tetap membiarkan kapasitas diri menjadi berjalan pada tempatnya.

Gelisah di hati ini harus segera diselesaikan. Luapan doa sudah disampaikan dan bisikNya perlahan berhasil didengar. Ada suatu keputusan besar yang perlu diambil di depan mata. Ada suatu paradigma baru yang akan dibukakan di langkah berikutnya. Kuatir dan prasangka perlu ditindas dengan modal tekad dan iman matang.
Biarkan ini semua menjadi campur tangan Maha Kuasa untuk memperbesar kapasitas diri.
Biarkan tanggung jawab ini bukan menjadi beban yang dijunjung tinggi dengan gerutu dan sesal, tapi menjadi pekerjaan tangan Maha Kuasa untuk membuktikan kebesaranNya.

Dan Biarkan otak ini mampu memikirkannya, serta hati ini merasakannya.

Saya tidak merokok, dan itu pilihan saya.

Seumur hidup saya hingga saat ini, saya tidak pernah menghisap sebatang rokok sekalipun. Ini bagian dari prinsip saya untuk tidak membakar uang yang saya hasilkan dan perlahan-lahan membakar organ tubuh saya hanya demi sebuah guilty pleasure. Saya harap ini bisa berlangsung hingga saya mati, supaya saya tidak perlu tau soal seni merokok seperti yang mereka dengungkan sebagai suatu pembelaan manis.

Merokok atau tidak menjadi keputusan tiap orang. Saya tidak menyalahkan mereka yang memilih untuk merokok. Sama sekali tidak, asal mereka tahu resiko mereka sebagai perokok. Yang saya salahkan adalah mereka membagi resiko pilihan mereka itu dengan saya dan teman-teman para anti-rokok. Kerap kali saya masih menemukan mereka, para perokok, yang merokok di depan umum, di kalangan mereka para anti-rokok. Bukankah itu suatu ketidakadilan akan suatu keputusan?

Saya merasa punya tanggung jawab atas diri saya dengan memilih untuk tidak merokok. Juga atas kesehatan jasmani serta kesehatan finansial saya. Mereka, para perokok, harusnya juga punya tanggung jawab untuk itu, atau setidaknya untuk sadar akan tanggung jawab mereka untuk tidak merokok di lingkungan umum. Pernah ada gumaman teman saya, supaya mereka para perokok, mukanya dibungkus plastik, agar pilihan asap rokok yang mereka timbulkan, bisa mereka nikmati langsung tanpa perlu tercemar pada udara tanpa dosa. Memang tidak mungkin sepertinya gumaman teman saya itu, tapi dari situ saya berpikir dalam bahwa kesadaran lagi-lagi menjadi kunci. Kalau tanda dilarang merokok hanya menjadi hiasan, atau peringatan dilarang merokok di depan umum hanya menjadi nasihat tanpa dengar, bukankah satu-satunya yang diperlukan hanya suatu rasa sadar untuk memilih apa yang mereka pilih?

Saya tidak merokok, dan itu pilihan saya.

*tulisan ini terinspirasi suatu obrolan di Path seorang teman terganggunya Ia akan perokok depan umum.

Syukur

Sudut jendela hari itu, ketika semilir angin menerpa kulit ari sepoi-sepoi.
Telinga ini, sebelah kanan mendengar irama konstan titik hujan Sang Alam.
Di kiri terdengar sayup melodi dari playlist lagu andalan.
Kolaborasi ini semacam paduan menarik suatu kualitas waktu.
Ketika tiba saatnya hanya bisa menikmati waktu, tanpa hingar bingar kerja keras atau interupsi diskusi.
Tiap manusia butuh ini, suatu momen hanya untuk menikmati.
Menarik nafas panjang sambil berdecak kagum akan Anugrah yang Maha Kuasa beri.
Berdua dengan Maha Kuasa, berdialog lewat hati.

Dan memang,
Sudut jendela hari itu, ketika syukur menjadi satu-satunya rasa dalam benak.

Romantisme Rasa Erros Djarot.

Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya.
Namun setelah Empat Puluh Tahun Beliau berkarya, saya mulai mengenalnya. Lewat konser malam itu, dengan suguhan apik dari aransemen Erwin Gutawa, tata panggung seorang arsitek Jay Subiyakto, dan penulisan skenario sineas wanita Mira Lesmana, serta show director Inet Leimena, saya mengenal Erros Djarot dan bahkan jatuh cinta akan karya beliau.
Momen Hari Kasih Sayang tahun ini memang sengaja saya lewatkan dengan menonton konser ini. Sebuah selebrasi romantis seorang Erros Djarot melalui karyanya yang terkenal puitis dan berkelas.
Mira Lesmana, lewat skenarionya, mampu membuat penikmat konser betah mengikuti alur pagelaran. Babak demi babak Ia bagi dengan sebuah fokus dari tiap sudut pandang yang berbeda. Jelas muncul sosok multi-talenta dari seorang Erros Djarot. Bukan hanya musisi, Beliau berjuang dalam karya lewat film sebagai sutradara, menjadi budayawan, hingga berani naik ke panggung politik. Menarik karena di antara penampilan berkelas setiap bintang panggungnya, kejutan demi kejutan disisipkan sang sineas wanita untuk tetap menjaga grafik penonton. Cuplikan Film Tjoet Nyak Dien yang merupakan film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes tahun 1989 karya Erros Djarot,menjadi salah satu kejutan utama dengan iringan orchestra Erwin Gutawa yang membuat saya sedikit banyak merinding menikmatinya. Penampilan The S.I.G.I.T. dengan panggung hidrolik ala Jay, drama musikal era Orde Baru tentang pembredelan tabloid Detik, doa bersama Iwan Fals untuk negeri Indonesia, serta tentu saja penampilan klimaks Berlian Hutahuruk dalam paket lengkap album Badai Pasti Berlalu, menjadi kejutan susulan hingga puncak selebrasi.
Di antara para penampil, memori otak saya tertuju pada interaksi Aqi dan Satria dari Alexa. Keduanya berhasil menyuguhkan lagu apik ‘Malam Pertama’ yang populer dinyanyikan oleh Chrisye di jamannya. Lagu ini seperti meninggalkan kesan yang panjang karena melodi yang indah dari seorang Erros. Memang dalam setiap karyanya Erros seperti berhasil menghembuskan energinya untuk menjiwai setiap karya hasil ciptaannya. Jelas juga terbukti ketika Istri Erros, Dewi Triyadi Surianegara, bersaksi tentang latar belakang diciptakannya tembang ‘Selamat Jalan Kekasih’. Dewi berujar betapa romantisnya Erros saat melepas kepergiannya untuk mengambil kuliah di Sorbonne, Perancis.
Pengalaman rasa sepanjang konser malam itu memang membuat saya semakin yakin bahwa negeri ini punya banyak aset berharga. Meskipun penikmat konser tadi malam didominasi oleh golongan kelas atas dengan umur di atas rata-rata, saya yakin ada segelintir anak muda yang masih ingin belajar, setidaknya dengan menyaksikan suatu karya sejarah musik dan film Indonesia.
Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya, itu dulu. Kini, saya jatuh cinta pada karyanya, pada geriknya, dan tiap melodi yang ia ciptakan. Perkenalan malam itu menyadarkan saya bahwa karya bisa bicara, asal tertembus nyata lewat jiwa.

Jalanan macet, Otak tidak perlu ikut macet

Jakarta saat ini sedang dihadapkan pada bencana banjir tahunan. Saya masih ingat, setahun lalu di awal bulan Januari yang masih terbawa euphoria pergantian tahun, terjadi kehebohan bencana banjir. Persis sama, tahun ini peristiwa itu terjadi lagi.

Debit air yang turun, curah hujan yang tinggi, alami terjadi. Maha Kuasa mengaturnya dengan berbagai kehendak yang saya yakin telah direncanakan dengan matang. CiptaanNya ini yang terkadang terlena akan anugerah yang dirasa bisa dan berhak dinikmati. Menjadi lupa untuk bersikap lebih bijak agar bencana yang tidak perlu terjadi itu menjadi ada. Bahkan lupa untuk bahkan bersikap bijak ketika peristiwa yang ‘katanya’ merugikan mereka terjadi, tetapi malah lebih senang menjadi para produsen komentar dengan list panjang caci maki sambil tetap diam tanpa ada aksi.

Hari ini, lagi-lagi selain hujan, Jakarta juga dihebohkan dengan berita macet. Entah macet yang disebabkan oleh banjir atau bukan. Yang pasti, saya melihat beberapa pengguna jalan mulai mau berjalan kaki dengan jarak yang masih relevan ditempuh. Cukup senang mendengarnya karena memang jarak jalan yang relevan seharusnya bisa ditempuh dengan kedua kaki ini. Jika jalanan macet, apakah otak kita juga ikut macet untuk berpikir sekedar lebih bijak? Mengingat bahwa pengguna jalan bukan hanya kita, tetapi jutaan lainnya yang berjejal bersusah payah di jalan. Lebih baik kita membantu Pemerintah berbenah diri menciptakan trotoar ‘kosong’ menjadi lebih nyaman lagi. Tidak perlu drama untuk sekedar berjalan kaki, itu menyehatkan bila ruang kota kita meminimalisir jumlah kendaraan bermotor.

Hari-hari ini, Jakarta seperti memiliki banyak cermin bagi saya. Mereka yang berteriak, mereka perlu cermin. Mereka yang diam, pun butuh cermin. Mari mengubah pikiran tanpa perlu drama dan ego. Lebih banyak berjalan kaki, menciptakan ruang kota yang minim polusi, dan akhirnya menjadi nyaman dengan kedua kaki. Mari berdoa, bukan untuk bencana ini-itu saja, tetapi bencana pola pikir yang menghiasi batas ego para manusia Jakarta.