Surat Balas untuk Praha

 
Teruntuk Praha, 
Praha, Engkau tidak dieksploitasi lewat keindahanmu di film ini. Namun Engkau tetap Indah. Indah karena Engkau dipadukan dengan suguhan akting menarik dari peran Kemala Dahayu Larasati (Julie Estelle) dan Mahdi Jayasri (Tyo Pakusadewo). Diiringi denting piano di setiap sudut scene, dan nyanyian syahdu yang dicipta sang Executive Producer. 
Perkenalan dengan Mahdi Jayasri yang disuguhkan dengan latar lagu Menanti Arah, menjadi suatu pengalaman yang sungguh menarik, menggigit rasa, merasakan getir hidup Sang Jaya. Tiap perkataan yang dilontarkan Jaya, seperti semacam Roh yang dihembuskan dalam jiwaku, jiwa yang menikmati sungguh karya ini. Rasa ini terus dikoyak menembus fantasi, bahkan imajinasi. Angga Dwimas Sasongko sukses menaruh suatu cerita indah untukmu, Praha. Ia bersama Irvan Ramli sebagai penulis cerita, dan Glenn Fredly sebagai inspirator melalui senandung lagu, berhasil memainkan rasa setiap jiwa yang mampu menikmatinya.

Ada tanya yang menggantung di beberapa scene. Tetapi menjadi suatu kejanggalan jika kita hanya bisa menghakimi, ketika logika hanya memiliki batasan. Butuh lebih dari sekedar logika untuk paham karya lewat Praha. Butuh rasa untuk menjawab setiap mengapa yang mengadu. 

Praha, hampir saja aku terlambat membalas suratmu. Namun tidak. Surat ini adalah penanda selamat untuk hadirnya suatu karya besar di kancah Film Indonesia. Selamat kulontarkan untuk setiap crew yang telah memberi kontribusi karya indah. Praha, Engkau beruntung memiliki mereka untuk mengukir cerita. Ya cerita soal rasa, di Praha. 

Advertisements

Mencari Diri di Mencari Hilal

Mencari-Hilal-1-620x330

Sementara antrian untuk menonton Manusia Semut mengekor panjang, saya dan keluarga lebih memilih Film Indonesia garapan sutradara muda Ismail Basbeth, Mencari Hilal. Film ini bercerita soal hubungan manusia dan Tuhan sekaligus hubungan antara seorang Ayah dan anak laki-lakinya. Berlatar belakang ajaran Islam dan tata krama Jawa halus, Mencari Hilal menjadi sangat kontras dalam bertutur dan berpesan. Pencarian hilal memang menjadi tujuan utama film ini secara harafiah, namun ada maksud lebih yang ingin disampaikan oleh sang penulis skenario tentang makna sebuah pencarian.

Oka Antara sebagai aktor berbakat generasi ini, memang layak bersanding dengan kepiawaian sang ayah yang diperankan oleh Dedi Sutomo. Terlihat keduanya sama-sama punya karakter kuat juga keras menyikapi pencarian hilal. Adegan demi adegan yang ditampilkan dalam film ini sederhana namun mampu menguras emosi saya untuk segera menggelengkan kepala atau berdecak kagum akan tiap tindak dan laku kedua aktor. Akting sang kakak (yang diperankan oleh Erythrina Baskoro) saya rasa juga tepat pada porsinya. Tepat sasaran dalam menyulut api konflik di awal hingga tengah cerita, sehingga membawa saya ikut terlibat emosi di dalamnya.

Scene favorit saya untuk film ini adalah ketika sang anak menyerah untuk pulang, duduk di belakang mobil pick-up dengan sayur dan bermacam barang. Suatu adegan gerak pulang, yang meninggalkan makna kecewa yang bingung akan sang ayah. Kebingungan ini juga dialami saya sebagai penonton beradu dengan bingungnya Oka Antara dalam adegan. Menarik. Road Movie memang selalu membawa emosi naik turun tanpa perlu lelah menebak mau dibawa kemana film ini akhirnya. Oh, saya memang menggemari road movie. Genre ini bagi saya selalu memberi kesan sederhana, mudah dicerna, namun selalu berakhir pada buah pikir yang tak begitu saja mudah terlupa.

Mencari Hilal bukan sekedar tontonan bagi kaum tertentu. Bagi saya, Mencari Hilal layak ditonton oleh setiap mereka yang peduli akan solidaritas beragama, mereka yang bingung soal agama, mereka yang gemar bicara soal agama, mereka yang merasa agama bukan sekedar label yang menempel lekat pada identitas, namun lebih dari semua itu, suatu kebenaran yang hakiki tentang suatu relasi. Dengan Tuhan, dan juga dengan sesama di zaman yang semakin bergerak maju. Bukan mundur.

Selamat Ismail Basbeth dan crew untuk kesederhanaan suatu karya yang mampu menggigit emosi sekaligus memberi titik terang tentang makna suatu relasi.

*saya senang karena menonton film ini bersama keluarga layaknya studio seperti milik pribadi, sekaligus sedih karena tidak adanya andil penonton lain (selain keluarga saya) untuk merasakan indahnya kesederhanaan film ini.

Simak trailernya di : Mencari Hilal – Trailer