Mencari Diri di Mencari Hilal

Mencari-Hilal-1-620x330

Sementara antrian untuk menonton Manusia Semut mengekor panjang, saya dan keluarga lebih memilih Film Indonesia garapan sutradara muda Ismail Basbeth, Mencari Hilal. Film ini bercerita soal hubungan manusia dan Tuhan sekaligus hubungan antara seorang Ayah dan anak laki-lakinya. Berlatar belakang ajaran Islam dan tata krama Jawa halus, Mencari Hilal menjadi sangat kontras dalam bertutur dan berpesan. Pencarian hilal memang menjadi tujuan utama film ini secara harafiah, namun ada maksud lebih yang ingin disampaikan oleh sang penulis skenario tentang makna sebuah pencarian.

Oka Antara sebagai aktor berbakat generasi ini, memang layak bersanding dengan kepiawaian sang ayah yang diperankan oleh Dedi Sutomo. Terlihat keduanya sama-sama punya karakter kuat juga keras menyikapi pencarian hilal. Adegan demi adegan yang ditampilkan dalam film ini sederhana namun mampu menguras emosi saya untuk segera menggelengkan kepala atau berdecak kagum akan tiap tindak dan laku kedua aktor. Akting sang kakak (yang diperankan oleh Erythrina Baskoro) saya rasa juga tepat pada porsinya. Tepat sasaran dalam menyulut api konflik di awal hingga tengah cerita, sehingga membawa saya ikut terlibat emosi di dalamnya.

Scene favorit saya untuk film ini adalah ketika sang anak menyerah untuk pulang, duduk di belakang mobil pick-up dengan sayur dan bermacam barang. Suatu adegan gerak pulang, yang meninggalkan makna kecewa yang bingung akan sang ayah. Kebingungan ini juga dialami saya sebagai penonton beradu dengan bingungnya Oka Antara dalam adegan. Menarik. Road Movie memang selalu membawa emosi naik turun tanpa perlu lelah menebak mau dibawa kemana film ini akhirnya. Oh, saya memang menggemari road movie. Genre ini bagi saya selalu memberi kesan sederhana, mudah dicerna, namun selalu berakhir pada buah pikir yang tak begitu saja mudah terlupa.

Mencari Hilal bukan sekedar tontonan bagi kaum tertentu. Bagi saya, Mencari Hilal layak ditonton oleh setiap mereka yang peduli akan solidaritas beragama, mereka yang bingung soal agama, mereka yang gemar bicara soal agama, mereka yang merasa agama bukan sekedar label yang menempel lekat pada identitas, namun lebih dari semua itu, suatu kebenaran yang hakiki tentang suatu relasi. Dengan Tuhan, dan juga dengan sesama di zaman yang semakin bergerak maju. Bukan mundur.

Selamat Ismail Basbeth dan crew untuk kesederhanaan suatu karya yang mampu menggigit emosi sekaligus memberi titik terang tentang makna suatu relasi.

*saya senang karena menonton film ini bersama keluarga layaknya studio seperti milik pribadi, sekaligus sedih karena tidak adanya andil penonton lain (selain keluarga saya) untuk merasakan indahnya kesederhanaan film ini.

Simak trailernya di : Mencari Hilal – Trailer

Advertisements

#RealTalk, an Indonesian brilliant talkshow

Bicara soal talkshow, saya sangat suka konsep show semacam ini dari sejak saya kecil. Mungkin dulu talkshow yang saya ikuti sebatas talkshow-talkshow lucu ala anak ingusan. Tapi sekarang banyak sekali talkshow di TV baik lokal maupun internasional yang menampilkan berbagai macam konsep. Yang saya ingin bicarakan kali ini adalah mengenai Talkshow buatan dalam negri  yang digagas oleh seorang aktris film Indonesia,Hannah Al-Rashid.

Ketika saya mengikuti tweet Hannah soal program yang sedang dibuatnya, I’m very excited about this program! and you know who is the first guest star in this program…. JOKO ANWAR, the name that i adore so much. Saya kenal Joko Anwar dari setiap karya yang ia ciptakan dan selalu tertarik dengan berbagai info yang diberikannya. Kreativitasnya tanpa batas dan saya belajar itu dari seorang Joko Anwar. Enough talk about Joko Anwar (i will share about Joko Anwar one day, i promise).

Back to the Hannah’s talk show. Kemunculan program ini semakin menarik karena ternyata teaser-teaser berikut nya bermunculan dan memuat nama-nama kaliber perfilman Indonesia seperti Ario Bayu, Joe Taslim, Lala Timothy, dan Wulan Guritno. Talk show ini tidak menampilkan Hannah physically, tetapi saya merasa yakin Hannah hadir melalui pertanyaan-pertanyaan menarik yang membuat all the guest stars mau buka-bukaan soal apapun yang Hannah berani tanyakan. Talkshow ini juga dengan sangat baik menempatkan guest star sebagai orientasi utama, bukan seperti talkshow-talkshow murahan di TV local yang lebih mengedepankan host sebagai orientasi mereka. Dan yang perlu digarisbawahi disini adalah, kelima tamu yang disuguhkan berangkat dari backround perfilman Indonesia (walaupun saya juga tertarik dengan background guest star dari bidang lain). Ini menarik. Perfilman Indonesia buat saya seperti semacam hiburan paling menyegarkan yang saya miliki disamping my main passion, design. Film Indonesia memang belum semuanya baik, namun ketika kita kenali rutin karakter Film Indonesia yang baik, ada magnet yang membuat saya selalu tertarik dengan Film-Film Indonesia.

Pertanyaan demi pertanyaan yang dihadirkan di talkshow ini memang bukan melulu tentang film, tapi selalu ada pertanyaan mengenai film yang membuat saya semakin tertarik dengan talkshow ini. Tidak saya pungkiri juga kalo saya juga excited dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman hidup, guru favorit, and any other simple question that inspire my mind. All the statements from them about Indonesian Film, membuat saya mengerti mindset mereka dan paham betul kemana mereka akan membawa perfilman Indonesia. it is very very very interesting (at least) for me. Film Indonesia punya masa depan di tangan mereka.

Sampai saat ini, baru lima guest stars yang dihadirkan dalam program ini, namun itupun masih menyisakan part-part lain yang belum dipublish. Saya selalu menunggu update dari program ini.

Ketik #RealTalk di bagian ‘search’ lembar Youtube, and i always enjoy watching brilliant talkshow like this.Thanks Hannah Al-Rashid.

Image

*for more update, just follow @Real_Talk_With on Twitter.