Nathania Wibowo, a friend with a million passions in music.

‘Spring Cleaning’‘s breezy melody inspires a sense of calm and optimism in the listener as Nathania Wibowo’s crisp, earnest voice dances through the song’s twittery rhythm. This song encompasses Wibowo’s spirit, an impassioned composer and performer who lives for her art.

I was introduced to Nathania when we were both studying Architecture at Parahyangan Catholic University. Our friendship has been filled with discussions about music, art and life. The natural rhythm to her voice is musical, showing her constant embodiment of her creativity. Nathania bares her soul through her music. 

Some of my fondest memories of my time spent with Nathania involve going to karaoke bars to pass the frigid nights in North Bandung, and Nathania would always be the star performer. My friends and I were always mesmerized by her performances in the small and intimate space. Her voice always inspired in us a sense of home and would send us into a calm and dreamlike state.

Since moving to the United States, Nathania’s talent and artistic spirit have taken wing even further. Spectrum of the East I-90, Spring Cleaning (both in collaboration with lyricist Taylor Smith), and My Sister (a piece from Insult To Injury, a play with music by Los Angeles-based playwright Maura Knowles, to which Nathania is providing compositions) are three of the charming works that she has created so far. Her voice’s character in combination with her unique and soaring compositions creates a beautiful and transcendent sonic experience, which evokes feelings of being led into a fairy tale. Currently, she is building her music portfolio as she continues to explore writing for musical theater. Nia is rightfully deserving of a successful musical career due to her persistence and commitment to her passion and fascination with music that she has possessed since she was a young girl, and I am confident her recent awards from the Berklee College of Music’s Curtain Up! competition will prove to be the first of many more to come.

I am honored to be so close to someone as talented as Nathania Wibowo, and I look forward to watching her career continue to grow as she creates more masterpieces.

Keep up the great work, Nathania Wibowo!

 

IMG_2217

(Photo courtesy by : Stevano)

 

Enjoy her works on:

http://www.nathaniawibowo.com/

 

Advertisements

Romantisme Rasa Erros Djarot.

Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya.
Namun setelah Empat Puluh Tahun Beliau berkarya, saya mulai mengenalnya. Lewat konser malam itu, dengan suguhan apik dari aransemen Erwin Gutawa, tata panggung seorang arsitek Jay Subiyakto, dan penulisan skenario sineas wanita Mira Lesmana, serta show director Inet Leimena, saya mengenal Erros Djarot dan bahkan jatuh cinta akan karya beliau.
Momen Hari Kasih Sayang tahun ini memang sengaja saya lewatkan dengan menonton konser ini. Sebuah selebrasi romantis seorang Erros Djarot melalui karyanya yang terkenal puitis dan berkelas.
Mira Lesmana, lewat skenarionya, mampu membuat penikmat konser betah mengikuti alur pagelaran. Babak demi babak Ia bagi dengan sebuah fokus dari tiap sudut pandang yang berbeda. Jelas muncul sosok multi-talenta dari seorang Erros Djarot. Bukan hanya musisi, Beliau berjuang dalam karya lewat film sebagai sutradara, menjadi budayawan, hingga berani naik ke panggung politik. Menarik karena di antara penampilan berkelas setiap bintang panggungnya, kejutan demi kejutan disisipkan sang sineas wanita untuk tetap menjaga grafik penonton. Cuplikan Film Tjoet Nyak Dien yang merupakan film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes tahun 1989 karya Erros Djarot,menjadi salah satu kejutan utama dengan iringan orchestra Erwin Gutawa yang membuat saya sedikit banyak merinding menikmatinya. Penampilan The S.I.G.I.T. dengan panggung hidrolik ala Jay, drama musikal era Orde Baru tentang pembredelan tabloid Detik, doa bersama Iwan Fals untuk negeri Indonesia, serta tentu saja penampilan klimaks Berlian Hutahuruk dalam paket lengkap album Badai Pasti Berlalu, menjadi kejutan susulan hingga puncak selebrasi.
Di antara para penampil, memori otak saya tertuju pada interaksi Aqi dan Satria dari Alexa. Keduanya berhasil menyuguhkan lagu apik ‘Malam Pertama’ yang populer dinyanyikan oleh Chrisye di jamannya. Lagu ini seperti meninggalkan kesan yang panjang karena melodi yang indah dari seorang Erros. Memang dalam setiap karyanya Erros seperti berhasil menghembuskan energinya untuk menjiwai setiap karya hasil ciptaannya. Jelas juga terbukti ketika Istri Erros, Dewi Triyadi Surianegara, bersaksi tentang latar belakang diciptakannya tembang ‘Selamat Jalan Kekasih’. Dewi berujar betapa romantisnya Erros saat melepas kepergiannya untuk mengambil kuliah di Sorbonne, Perancis.
Pengalaman rasa sepanjang konser malam itu memang membuat saya semakin yakin bahwa negeri ini punya banyak aset berharga. Meskipun penikmat konser tadi malam didominasi oleh golongan kelas atas dengan umur di atas rata-rata, saya yakin ada segelintir anak muda yang masih ingin belajar, setidaknya dengan menyaksikan suatu karya sejarah musik dan film Indonesia.
Saya tidak mengenal Erros Djarot sebelumnya, itu dulu. Kini, saya jatuh cinta pada karyanya, pada geriknya, dan tiap melodi yang ia ciptakan. Perkenalan malam itu menyadarkan saya bahwa karya bisa bicara, asal tertembus nyata lewat jiwa.